Jangan Berguru Kepalang Ajar, Bagai Bunga Kembang Tidak Jadi

Inti Sari Siu Tao
January 25, 2016
Jangan Berputus Asa
January 25, 2016

Jangan Berguru Kepalang Ajar, Bagai Bunga Kembang Tidak Jadi

Jangan Berguru Kepalang Ajar, Bagai Bunga Kembang Tidak Jadi

Oleh: Flyming Lika

Ini adalah sebuah pepatah yang perlu kita cermati dalam kehidupan kita sehari-hari, juga dalam kita Siu Tao ( ).

Mengapa demikian?

Banyak istilah bagi Tao Yu ( ) yang Siu Tao ( ) nya: “Goyang kiri , goyang kanan”.

Akhirnya timbullah julukan:
Tao Yu “Bunglon” lah,
Tao Yu yang tidak Cenn lah,
Tao Yu “Mbalelo” lah,
Tao Yu “Plin-plan” lah,
dan lain-lainnya.
Ini menandakan bahwa masih banyak Tao Yu ( ) kita yang bingung.

Untuk apa Siu Tao?

Apa bedanya antara Siu Tao ( ) dengan:

  • tidak Siu Tao?
  • sembahyang saja?
  • berbuat baik / berbuat kebajikan saja?

Atau mungkin merasa dirinya akan lebih mendapatkan sesuatu bila bertindak demikian. Karena beranggapan bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan yang notabene dianggapnya “Sama”.

Apakah agama itu ada sebelum manusia ada?

Atau agama itu ada setelah manusia ada?

Mungkin ini perlu direnungkan sendiri dan tidak perlu diperdebatkan disini.

Kita kembali ke judul diatas, kita Siu Tao ( ) harus Cen (lurus).

Untuk Cen ini saja dalam kenyataannya tidak segampang seperti apa yang ditulis disini.

Perlunya mengerti: “Untuk apa kita Siu Tao?”

Janganlah ceroboh, untuk itulah bila ingin bertindak, berpikirlah “Untuk apa saya bertindak?”

Demikian juga dengan saat kita dalam tahap awal Siu Tao ( ). Kalau belum mendapatkan jawaban dan penjelasan yang lengkap, maka niscaya masih akan mencari dan terus mencari, tidak dapat keluar dari kebingungan yang dibuat sendiri.

Banyak sudah jawaban yang pernah kita dengar dari para Tao Yu ( ), jika ditanya untuk apa kita Siu Tao?

Ada yang menjawab:

  1. Agar saya menjadi sehat
  2. Agar saya menjadi lebih baik
  3. Agar saya dekat dengan Dewa
  4. Agar saya dilindungi
  5. Agar saya lebih banyak Hok Gie
  6. Dan lain sebagainya …

Coba deh direnungkan kembali, …… mana yang paling berkenan dihati dari jawaban-jawaban itu semua.

Renungkan dan renungkan kembali, ditambah banyak berdiskusi dengan Tao Yu ( ) lainnya, banyak baca Ciang Ie (buku Kuning), banyak Thing Tao (dengar ceramah Tao) pasti jawaban hakiki akan didapatkan.

Satu panduan yang sangat dianjurkan adalah memberi pengarahan kepada mereka yang ingin Siu Tao ( ) agar lebih mengerti untuk apa kita Siu Tao.

Sehati belajar Tao

Siu Cen itulah kata-kata yang paling tepat. Dengan Wu (kesadaran dan nalar) lah kita Siu Cen. Kalau kita mulai menjabarkan lebih lanjut kata-kata diatas, sering kali akan menjadi melebar jauh dan sering ditangkap salah / ditafsirkan lain dari arti hakiki kata-kata itu sendiri.

Ironis memang, kalau sampai kita belajar sesuatu tetapi tidak sehati, tidak mantap dan selalu ragu. Akhirnya lapuk dimakan waktu dan justru disaat-saat layu, sadar akan keterlambatannya, dan menyesali hidupnya yang telah dijalani selama ini, yang kurang berhasil dalam Siu Tao ( ) nya.

Apakah itu nasib atau ia membawa nasibnya kearah sana?

Ataukah ini “Takdir” nya?

Inipun bukan porsi kita membahas disini sekarang.

Yang jelas bahwa kita Siu Tao adalah justru mencoba “Melawan Ceran” untuk mendapatkan “Ceran” ( ).

Bagaimana ini?

Adakah yang salah?

Tidak, Tao memang “Agung dan Misterius”.

Jangan berguru kepalang ajar

Artinya: jangan kepalang tanggung, atau jangan setengah hati belajar sesuatu. Ini adalah sikap kita dalam menjalani hidup. Apa lagi kita mau Siu Tao ( ). Kalau setengah hati, maka boleh dibilang start awal saja sudah Puk Ce Ran ( tidak alamiah).

Setengah Hati dapat diartikan pula bahwa ia tidak terbuka, masih menyembunyikan sesuatu (untuk Tao).

Yang mana sebenarnya Siu Tao ( ) adalah untuk diri sendiri, Siu Tao untuk menuju Ceran-diri maupun Ceran-jagat raya ini.

Lalu ………… apa yang di Siu dong?

Jadi …….

Mestinya tidak setengah hati.

Sehati Belajar Tao.

Mantap, maju terus tidak menengok kanan-kiri lagi dong…

…… Bagai bunga kembang tidak jadi

Beginilah jadinya …….. kembangpun tidak jadi (meskipun bibitnya unggul!) kalau Berguru Kepalang Ajar, yaitu setengah-setengah.

Kembali lagi “Wu” pribadi berperan sangat besar sekali dalam kita Siu Tao (Siu Cen). Harapan akhir tentunya agar bunga berkembang dan menjadi buah (Tek Tao) bagi setiap Tao Yu ( ) yang Siu Tao ( ).

Cuen Se Cung Tao

Hormati Guru (mu) dan Junjung tinggi Tao. Konsep yang paling hakiki dalam kita Siu Tao ( ), tanpa kompromi.

Coba direnungkan kembali dengan seksama pengertiannya!

Bagaimana dalam pelaksanaannya di kehidupan kita sehari-hari (dalam kita Siu Tao)?

Mudah dalam ucapan tetapi sulit dalam pelaksanaannya.

Lalu bagaimana kalau sulit dalam pelaksanaannya?

Adakah tahapan yang dapat dikerjakan sebelum menuju Cuen Se Cung Tao ini?

Jangan Ber-Khianat!!!

Kalimat diatas juga merupakan dasar pijakan kita membawa hidup ini.

Jangan ber-khianat kepada siapa?

Kepada Tao dan kepada Guru (mu) tentunya. Sederhana!

Kalau inipun masih sulit untuk dilaksanakan (ragu) maka …. “Diam” adalah senjata yang paling ampuh.

Bersikap, bertindaklah yang lebih baik dari sebelumnya. Kita akan tetap di jalur Tao, meskipun mungkin tidak / belum patut untuk disebut Siu Tao ( ).

Akhir kata “Wu” tetap harus ditingkatkan. Dengan “Wu” kita Siu Tao ( ).

Salam Tao …!

Please Share Us :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × five =