Penyesalan Seumur Hidup
January 25, 2016
Problem
January 25, 2016

Percaya Diri dan Percaya Dewa

Percaya Diri dan Percaya Dewa

Oleh: Albert Hendra Wijaya

Belajar Tao memang sangat unik, begitu kompleks dan kaya sehingga tidak habis-habisnya digali. Bagi kaum Siu Tao ( ) yang selalu ingin maju dan berhasil, maka tentunya mempunyai dan mempersiapkan sebuah pondasi yang kokoh yang tentunya merupakan persyaratan yang tidak dapat ditawar.

Idealnya selain modal dasar kodrat alami kita sebagai manusia yaitu fisik yang sempurna (tidak cacat) dan jiwa yang sehat (tidak ada gangguan kejiwaan), masih ada modal dasar lainnya, yang juga sangat penting sekiranya untuk dimiliki oleh setiap insan Tao. Kedua modal dasar itu adalah: kepercayaan diri dan kemantapan hati pada Dewa (selanjutnya akan ditulis: Percaya diri dan percaya Dewa).

Permasalahannya adalah sering kali memupuk percaya diri yang sangat tinggi dan mempertebal percaya Dewa, tetapi yang terjadi bisa macam-macam, dan jika keduanya sudah tidak terkontrol maka tindakan menjadi mengada-ada. Misalnya: karena saking percaya diri bahwa dirinya super kuat dan percaya bahwa Dewa selalu melindunginya, maka orang berpikir bahwa lompat ke jurang akan aman-aman saja.

Nah, jadi apakah sebetulnya yang dimaksud dengan percaya tersebut? Entah itu percaya diri maupun percaya Dewa tentunya harus berdasar kerangka berpikir yang tepat terlebih dahulu.

Percaya Diri

Percaya diri adalah kekuatan keyakinan mental seseorang atas kemampuan dan kondisi dirinya. Umumnya percaya diri mempunyai pengaruh terhadap kondisi dan perkembangan kepribadian seseorang secara keseluruhan.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, biasanya tingkat percaya diri seseorang ini mempunyai peranan yang besar dalam menentukan tingkat keberhasilan seseorang menjalani kehidupannya secara keseluruhan. Orang dengan percaya diri yang tinggi, umumnya cenderung lebih berani mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan memanfaatkan kemampuannya yang ada secara optimal daripada orang yang percaya dirinya rendah.

Tentunya percaya diri seseorang itu tidak terbentuk begitu saja, faktor umum yang mempengaruhi tingkat percaya diri seseorang antara lain adalah:

  1. Kondisi fisik
  2. Latar belakang keluarga
  3. Lingkungan dan pergaulan
  4. Tingkat pendidikan dan prestasi
  5. Materi
  6. Kedudukan
  7. Pengalaman dan wawasan

Semakin banyak dan baik kualitas faktor-faktor tersebut dimiliki, maka secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk rasa percaya diri yang semakin tebal pada diri seseorang.

Walaupun demikian faktor-faktor itu tetap tidak dapat menempati posisi yang teratas (utama), karena menurut saya, hal yang lebih ber-esensi tinggi untuk menempati posisi diatas segalanya dalam membentuk percaya diri yang menjadi baik dan positif hanyalah “Kebenaran” (yang hakiki; yang hanya bisa disadari / Wu melalui rangkaian proses).

Percaya Dewa

Sebagai seorang umat beragama yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa, sudah tentu kita memiliki kepercayaan dan keyakinan pada Nya (dalam lingkup agama Tao adalah pada Dewa-Dewi). Dalam Siu Tao ( ), kepercayaan kita kepada Dewa haruslah dari dasar kesadaran berpikir yang tinggi (Wu), untuk menghindari timbulnya suatu keyakinan atau kepercayaan yang asal-asalan dan menjerumuskan kita kedalam ketahyulan.

Setelah itu dengan adanya landasan ini, maka seiring dengan proses kesadaran yang tercapai kita terus memupuk kekuatan dan semangat kemantapan hati pada rel kebenaran yang satu, untuk lebih mendekatkan diri kita pada Nya (Dewa-Dewi), sehingga kemudian bisa menimbulkan nilai-nilai moralitas yang kuat dalam diri kita. Hal ini disebabkan karena semua nilai-nilai moralitas (kebajikan) yang ada itu, berdasar dan bersumber hanya pada satu maha sumber yaitu “Kebenaran Hakiki” yang berada pada Tao yang tertinggi.

Antara Percaya diri dan percaya Dewa

Tinggi rendahnya percaya diri ini bersifat sangat relatif sehingga dikatakan tidak dapat diukur secara tepat sekali.

Tetapi secara umum tingkat kepercayaan diri seseorang dapat dikategorikan dalam dua tingkatan kondisi penilaian umum, yang biasanya adalah perbandingan antara pandangan realita umum dengan pandangan subjective seseorang terhadap tingkat kemampuan untuk mencapai harapannya, yaitu:

Optimis

Kondisi percaya diri yang relatif tinggi, bersandar pada keyakinan bahwa keadaan lingkungan dan kemampuan diri yang masih dalam ambang batas kendali dan pengaruh untuk mencapai harapannya. Orang yang optimis adalah orang yang mempunyai pandangan kedepan yang positif sehingga biasanya mampu untuk mempertahankan asumsinya bahwa selalu ada jalan keluar (pemecahan) positif pada setiap permasalahan yang ada. Optimisme yang dimiliki seseorang inilah yang selalu menjadi pemicu semangat hidup yang aktif, dinamis serta keberanian dan kemandirian baik untuk maju maupun bertahan.

Pesimis

Adalah keadaan yang sebaliknya dari optimis, yaitu dimana kondisi percaya diri relatif rendah yang biasanya karena akumulasi tekanan lingkungan dan kondisi persaingan yang keras, yang selalu menghalangi seseorang untuk mencapai harapan yang ada, sehingga mengikis bahkan mengubur kepercayaan dan semangat diri yang ada. Orang yang pesimis biasanya pasif, tidak bersemangat, ragu-ragu, dan cenderung tergantung pada orang lain.

Sesuai dengan semangat bebas-optimis, optimisme adalah sesuatu yang baik dan sehat. Tetapi optimisme terhadap semua hal tanpa batas dapat menyeret kita kedalam optimisme ngawur, dan menimbulkan banyak masalah dalam prakteknya, yang dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Dari sudut kepentingan / motivasi: optimisme untuk kepentingan yang egois, terselubung. Misalnya: kita optimis bahwa kita memiliki kemampuan untuk diangkat sebagai direktur. Oleh karena itu, maka kita giat menyingkirkan lawan-lawan kita dengan cara yang picik.
  2. Dari sudut arah / manfaat: optimisme untuk sesuatu yang mubazir. Misalnya: kita optimis bahwa suatu saat nanti tangan kita bisa mengeluarkan asap. Disini, kadang kala kita menyebutnya sebagai sikap yang mengada-ada.
  3. Dari sudut scope of concern: optimisme terhadap sesuatu yang diluar kendali / pengetahuan / jangkauan kita. Misalnya: kita mengharapkan semua orang setuju dengan pendapat kita. Optimisme jenis ini sering kita sebut sebagai mimpi di siang bolong.

Kesimpulan

Sebagai seorang Tao Yu ( ), dalam menjalani hidup sehari-hari maupun dalam aspek Siu Tao ( ) nya, kita selalu dibimbing dan diarahkan oleh Dewa menuju kebenaran. Percaya diri, motivasi, pemahaman realita dan cara bersikap yang benar adalah hasil kesadaran yang timbul intuitive. Intuitive ini diperoleh dari kemampuan dan pola berpikir, akumulasi pengalaman serta kepekaan terhadap lingkungan.

Percaya diri dan percaya Dewa adalah dua masalah berbeda yang penting. Hanya dengan memiliki keduanyapun ternyata dapat menjadi konyol, apalagi tidak disertai pemahaman yang benar. Antara percaya diri dan percaya Dewa memang merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan, Keduanya adalah hal yang abstract dan terbentuk melalui proses maka sangat sulit bagi kita untuk mengendalikannya secara langsung. Salah satu pendekatan yang dapat kita lakukan adalah dari sikap kita sehari-hari.

Sikap Sportif

Melanjuti apa yang saya uraikan diatas, maka jelaslah bahwa kita harus memiliki percaya diri yang tebal sekaligus percaya pada Dewa. Keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan serta harus memiliki landasan dan arah yang benar. Tanpa landasan dan arah maka keduanya akan bisa mengarah pada yang keliru.

Dalam pemikiran, kadang-kadang kita mempermasalahkan mana yang lebih penting. Sebenarnya keduanya itu tidak mungkin bisa kita ukur. Apakah ukurannya? Terlebih lagi, keduanya memang tidak perlu diukur. Dan mengenai mana yang lebih penting, jelaslah bahwa keduanya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan sehingga dua-duanya penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemecahan masalah tergantung pada konteksnya. Dengan kerangka berpikir yang saya berikan diatas maka jelaslah bahwa untuk masalah-masalah yang menyangkut pribadi dan dalam ruang kepedulian (scope of concern) kita, maka pengenalan diri pribadi kita akan lebih menentukan pengambilan keputusan kita. Hal itu terjadi secara spontan dan bukan karena kita kurang percaya pada Dewa. Sebaliknya, untuk masalah-masalah yang menyangkut sesuatu diluar jangkauan kita (misalnya: masa depan), kepercayaan diri kita harus dibangun melalui suatu kemantapan hati yang kita peroleh dari percaya kepada Dewa.

Nah, untuk dapat merintis ke arah tersebut maka dalam proses pembentukan dan pengembangan percaya diri dan percaya Dewa, baik dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, maupun dalam ber-Siu Tao, ada satu sikap mental dunia olah raga yang sekiranya baik dan cocok menjadi bagian sikap mental dan kepribadian seorang Tao Yu, yaitu sportifitas (sifat-sifat sportif).

Sportifitas ini mengekspresikan suatu kekuatan dan semangat keuletan untuk maju yang positif. Jujur dan adil, kerendahan hati, keterbukaan, lapang dada, kebersamaan / persahabatan, dll. Kepercayaan diri yang menyatu dengan percaya Dewa (ketulusan dan kemantapan hati pada yang satu), diimbangi sikap mental dan kepribadian yang sportif akan menimbulkan kharisma positif dari dalam diri kita.

Sikap sportif ini saya rasa dapat berguna jika kita memang ingin memiliki percaya diri dan percaya Dewa yang benar dan solid.

Please Share Us :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + one =