Tao Taoism : Tai Shang Lao Jun Zhen Jing
January 16, 2016
Tao Taoism : Fu De Zheng Shen Zhen Jing
January 16, 2016

Tao Taoism : Er Lang Shen Zhen Jing


Tao timbul dari arus kejujuran yang agung dan mulia. Dari alamiah, asal alamiah. Menuntun seluruh manusia ke jalan yang benar di dunia.

Cahaya kedewaan menyilaukan mata menyinari ujung kepala kita. Ucapan dan perbuatan haruslah benar, sopan, hingga tidak bersalah.

Jalan ada yang simpang tiga. Pedang ada yang berujung tiga pula. Belajar Tao, Memuja Tao, dilindungi, disayangi.

Setan Jin dan Iblis diusir, disingkirkan. Membela Tao, menjunjung tinggi Tao, tidak gembar-gemborkan jasa, jasanya sudah dicatat Tuhan (Thian).

Kebenaran atau kejahatan, Dewa-Dewa mengetahuinya. Membawa pedang di atas awan, meninjau tiga alam itu; tidak lain ialah melihat sejauh mungkin, meneliti hati nurani manusia. Ini cara memupuk Tao, memupuk Tao yang tidak tertara, menolong manusia yang tidak terjumlah.

Di dunia, siapa yang menyebarluaskan Tao, disayangi, dikaruniai, sudah logis nyata. Memfitnah Tao, merusak Tao, meskipun hendak diampuni, sukar juga. Ini boleh dikatakan hukum karma!

Sempurnakan diri siapakah tidak senang hati? Mengerti diri dan mengertikan lainnya, saya kagumi; Menindas dan berbuat jahat, saya larang keras.

Aneka cara ditunggal ika kan, tidak lain ialah Thay Cik; Wu Cik. Dapat Tao (kesempurnaan) adalah Dewa-Dewa. Fitnah Tao adalah iblis.

Dapat mengerti demikian, tentu tidak terjerumus ke simpang jalan yang salah dan tidak tersesat lagi.

Matahari dan rembulan ada “penuh” dan “sabit” nya. Nasib manusia ada pasang surut juga. Meskipun ini adalah takdir, tetapi yang berbudi, yang baik hati, yang belajar Tao, yang mengerti Tao, ketika nasib malang, sialnya dikurangi setengah, ketika nasib jaya, rejeki ditambah empat sampai lima bagian.

Sembahyanglah dengan Hio sujud di atas kepala, serta beramal dan budi cukup sudah.

Dewa piket mencatat jasa dan dosa, satu balas satu silih berganti. Seperti ada; seperti tidak ada; merupakan nyata, merupakan gelap gulita.

Sayang! Banyak manusianya; tetapi jarang yang bisa sadar (Wu), hingga terperosok ke dalam rawa-rawa bahaya, dengan jeritan belaka.

Jika dapat mengerti diri, mawas diri, dan Wu Tao (tinggi kesadarannya). Lepas dari laut sengsara, keluar dari kebingungan; jalan lapang sudah terlihat di depan mata.

Please Share Us :

Comments are closed.