KeTuhanan Dalam Ajaran Klenteng (Tao)

Maha Dewa Tao : Dai Sang Law Cin ( Thay Shang Lao Cun )
October 21, 2016
CIANG TAO UMUM: Hati Mantap, Sukses Menanti (23 Oktober 2016)
October 25, 2016

KeTuhanan Dalam Ajaran Klenteng (Tao)

KeTuhanan dalam ajaran klenteng (TAO)


Salam sejahtera Tao Yu Tao Yu sekalian, berikut Siutao.Com membahas tentang TAO tentang KeTuhanan.

Enjoy…

Umat Klenteng (Agama Tao) sangat mengutamakan pemujaan kepada Tuhan, setiap umat klenteng pertama tama terlebih dahulu sembahyang kepada Tuhan, di altar utama pemujaan Tuhan berupa tempat abu yang besar di depan pintu klenteng, setelah itu barulah masuk sembahyang ke dalam klenteng.

Tiap tiap akhir tahun penanggalan imlek (Jwen Ciek), tiap tahun baru imlek (Sincia), dan tiap tiap 9 hari setelah tahun baru imlek (King Tikong) selalu diadakan sembahyang kebesaran Tuhan yang disebut Khing Thikong (artinya sembahyang Tuhan Allah) yang dilaksanakan oleh semua umat penganut klenteng serta semua umat klenteng dirumah masing masing dengan menggunakan altar dihalaman atau didepan pintu, sembahyang menghadap langit, memuja kebesaran Yang Maha Kuasa Sang Pencipta Alam. Dalam agama Tao sejak jaman kuno dahulu kala telah diajarkan bahwa Sang Maha Pencipta Dikerajaan Langit (Sorga) sebenarnya Tiada Nama, Tiada Rupa, tetapi dapat menciptakan semesta alam ini. Mengenal nama dari “Yang Tiada Nama” ini dalam agama Tao, telah dijelaskan pada Kitab Suci Tao Tek Ching (Too Tek Keng) Bab 1 Pasal 1, Dai Sang bersabda :

 

“Tao yang dapat dibicarakan bukanlan TAO yang mutlak”

“ Nama yang dapat diberikan bukanlah Nama yang sejati”

 

Tao itu tiada nama, tiada bentuk, tiada rupa, maka tiada dapat dibicarakan secara bebas apalagi diperbantahkan, itulah sebabnya bahwa Tao yang dapat dibicarakan bukanlah Tao yang Mutlak, bagaimanakah caranya membicarakan sesuatu yang Tiada Diketahui, TIADA BENTUK, TIADA RuPA dan TIADA NAMA?

 

Demikian pula NAMA YANG DIBERIKAN BUKANLAH NAMA YANG SEJATI, Tao itu “Ada” dan “Tidak ada yang mengadakannya”, maka jelas tiada satupun yang dapat memberi nama kepadanya, dan sebagai umat manusia yang sangat terbatas, bagaimanakah caranya memberi nama sesuatu yang TIADA BENTUK, Karena Tao bukanlah benda yang berwujud, Tao adalah Maha Roh yang tiada wujud, tiada kelihatan bentuk rupanya pasti sulit untuk memberi nama,  tetapi untuk menyebutNya dibutuhkan sebuah nama, kalau tidak ada nama akan sulit untuk mengajarkan tentang “Sesuatu” itu, maka diberi nama saja “TAO”, seperti yang tertulis dalam kitab suci Tao Tek Ching Bab 25 Pasal 3 Dai Sang Bersabda :

 

Tak Tahulah Aku siapa Namanya, maka kusuntinglah sebuah nama dan kusebutnya dengan Nama “TAO”

Dalam istilah Kedewaan, yang disebut Tao adalah Kekuasaan Yang Tertinggi, setiap Agama pasti memiliki nama untuk “TAO”.

Dalam Agama Tao sejak jaman lama setelah Law Tze (titisan Dai Sang), Agama Tao menyebut Tao dengan nama gelar termulia yaitu : “Dai Sang Law Cin” yang artinya Kekuasaan yang Maha Tertinggi, Terawal dan Terakhir, yang dalam ajaran lain disebut bermacam macam yang hakekatnya sama, berarti Tuhan Yang Maha Esa.

Umat penganut yang sembahyang Klenteng, sangat mengutamakan pemujaan kepada Kekuasaan yang tertinggi diatas semua kekuasaan yang ada yang disebut “Dai Sang Law Cin” yaitu Sang Maha Dewa Pencipta, Yang Maha Awal, Yang Sudah ada sebelum adanya segala keadaan semesta, yang tiada nama, tiada wujud, namun seringkali “Menitis” kedunia menciptakan Keadaan keadaan semesta alam dan menurunkan wahyu Ajaran Tao, mengajarkan ilmu Kedewaan kepada umat manusia, sehingga umat manusia dapat naik tingkat menjadi Dewa Dewa dan dapat masuk Sorga.

Umat penganut biasa yang sembahyang di Klenteng, mereka sembahyang berdasarkan Kepercayaan dan Keyakinan masing masing, cara sembahyang yang dipakai adalah cara sembahyang yang sudah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang berdasarkan tat acara sembahyang leluhur masing – masing, dan menganggap Klenteng sebagai tempat pemujaan Dewa dan tempat mohon mohon Berkah kepada Dewa saja.

Umat penganut agama Tao menganggap Klenteng adalah sebagai “Tao Kuan / Tao Kwan” artinya Tempat ibadat Suci yang digunakan untuk melaksanakan upacara ritual Agama, untuk memuja kebesaran yang maha kuasa, serta mengenang jasa jasa para Dewa.

 

Salam Tao , Xie Shen En.

 

Please Share Us :