Last Updated on August 31, 2025 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Dalam hidup jaman sekarang yang serba harus cepat dan tanggap ini, kita sering mendapati hati dan perasaan kita sibuk berlari ke sana kemari. Pagi hari saja, pikiran sudah dipenuhi target pekerjaan. Lanjut siang, kita masih sibuk memikirkan pesan yang belum sempat dibalas. Dan Malampun akhirnya dikorbankan untuk waktu sendiri dimana mata masih terpaku pada layar ponsel, dan buruknya kadang-kadang kita membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
Ada ungkapan Tiongkok kuno yang mengatakan:
“心驰于物,不见道也”
(Jika hati terlalu berlari-lari pada dunia materi dan nafsu, Tao tidak akan terlihat).
Ada kebenaran sederhana di balik kalimat ini: selama hati kita terlalu sibuk mengejar yang di luar, kita akan kehilangan yang di dalam.
Di zaman Lao Zi, mungkin godaan terbesar adalah harta dan kekuasaan. Di zaman kita, distraksi itu berlipat ganda. Dari notifikasi tanpa henti, ecommerce, belanja instan, hingga obsesi pencitraan diri. Kita menyangka semakin banyak yang kita miliki, semakin dekat kita dengan kebahagiaan. Nyatanya, semakin jauh hati kita dari ketenangan.
Laozi sudah memperingatkan dalam Dao De Jing:
五色令人目盲,五音令人耳聋,五味令人口爽。驰骋畋猎,令人心发狂。难得之货,令人行妨。
“Warna-warna yang terlalu banyak membutakan mata. Nada-nada yang berlebihan membuat telinga tuli. Rasa yang terlalu kuat membuat lidah tumpul. Perburuan dan pengejaran tanpa henti membuat hati menjadi gila. Kekayaan yang berlebihan justru menjadi penghalang bagi manusia.”
Hidup yang terlalu penuh dengan rangsangan luar justru membuat kita kehilangan kepekaan. Apa bedanya dengan kita hari ini yang hidup dalam banjir konten, banjir informasi, banjir ambisi?
Laozi (老子) menekankan bahwa keterikatan pada kesenangan inderawi dan benda materi membuat manusia kehilangan keseimbangan batin. Ini sangat selaras dengan ungkapan “心驰于物,不见道也”.
Zhuang Zi (lahir sekitar tahun 369 SM, sekitar satu abad setelah Laozi. Namun, Zhuangzi sangat dipengaruhi oleh pemikiran Laozi dan menjadi penerus penting dalam tradisi Taoisme) menawarkan gagasan indah: 心斋 (xinzhai), puasa hati. Ia berkata:
心斋则明。
“Jika hati berpuasa, maka ia akan menjadi terang.”
Puasa hati bukan berarti menjauh dari dunia. Bukan pula melarikan diri dari tanggung jawab. Tetapi belajar memberi jarak: tidak membiarkan benda-benda luar menguasai batin.
Mungkin di zaman sekarang, puasa hati bisa dimulai dengan hal sederhana:
Itu semua adalah bentuk kecil dari “kembali pada Tao” jalan yang alami dan jernih.
Tao tidak selalu berupa sesuatu yang agung dan sulit dijangkau. Tao ada dalam ritme napas, dalam aliran air sungai, dalam cara bunga mekar tanpa terburu-buru. Namun, kita sering gagal melihatnya karena hati terlalu sibuk berlari ke luar.
Seperti cermin yang permukaannya beriak, ia tidak bisa memantulkan wajah dengan jelas. Begitu pula hati yang dipenuhi hasrat dan distraksi, ia tak mampu menangkap Tao.
Dengan menjalani prinsip ini, batin tidak lagi larut dalam benda-benda, dan Tao akan terlihat dengan sendirinya.
“心驰于物,不见道也” bukan sekadar kalimat klasik, tapi peringatan yang semakin relevan di abad digital ini. Jika hati terus mengejar benda, kita hanya akan terjebak dalam siklus tanpa akhir: semakin punya, semakin ingin; semakin sibuk, semakin kosong.
Barangkali, jalan pulang itu sederhana: berhenti sejenak, tenang, dan membiarkan hati tidak lagi berlari lari tidak jelas. Di situlah Tao menampakkan dirinya.
So jangan lupa Cing Co tiap hari ya Guys.. Netralinnnn.. ^^
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.