
Last Updated on January 26, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Mungkin ini salah satu penyakit hati yang menyebar lebih cepat daripada virus: Gengsi.
Kita hidup di era dimana citra diri (image) dianggap segalanya. Mengakui kesalahan dianggap sebagai kekalahan. Mengucapkan “Maaf” dianggap sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, banyak hubungan retak, suami istri saling mendiamkan berhari-hari, orang tua dan anak menjadi asing, dan persahabatan hancur, hanya karena satu pihak merasa terlalu “tinggi” untuk menundukkan kepala.
Padahal, dalam kacamata Taoisme dan kebijaksanaan Tiongkok kuno, kemampuan untuk meminta maaf adalah ciri utama dari Jiwa yang Besar (Junzi). Orang kerdil menyalahkan orang lain, orang besar menyalahkan diri sendiri.
Mengapa kita gengsi minta maaf? Karena kita ingin terlihat “Kuat” dan “Benar”. Kita mengeras seperti batu.
Namun, Laozi dalam Tao Te Ching Bab 76 memberikan tamparan keras bagi ego kita:
坚强处下,柔弱处上 (Jiān qiáng chù xià, róu ruò chù shàng) “Yang keras dan kaku akan hancur (berada di bawah), yang lembut dan lentur akan unggul (berada di atas).”
Pohon yang kaku akan patah saat badai, tetapi rumput yang lembut akan selamat karena ia mau menunduk mengikuti angin.
Meminta maaf adalah tindakan menjadi air. Saat Anda meminta maaf, Anda tidak sedang kalah. Anda sedang menjadi lentur. Anda sedang “mengalah untuk menang”. Anda menurunkan ego sesaat untuk memenangkan kedamaian jangka panjang. Itu adalah kekuatan yang sesungguhnya.
Dalam rumah tangga, seringkali pertengkaran bukan tentang siapa yang benar, tapi siapa yang lebih dominan. Suami gengsi minta maaf ke istri karena merasa “Saya Kepala Keluarga”. Istri gengsi minta maaf karena merasa “Saya Korban”.
Ingatlah peribahasa Tiongkok yang sangat indah ini:
退一步海阔天空 (Tuì yī bù hǎi kuò tiān kōng) “Mundur satu langkah, maka lautan dan langit akan terasa luas.”
Ketika konflik memanas, minta maaf duluan adalah langkah “mundur” tersebut. Bukan berarti Anda salah total, tapi Anda meminta maaf karena telah membiarkan amarah merusak harmoni.
Dalam Tao, harmoni (He / 和) lebih penting daripada kebenaran ego. Apa gunanya Anda menang debat lawan istri, tapi malamnya tidur punggung-punggungan? Menang jadi arang, kalah jadi abu. Minta maaflah, maka langit rumah tangga akan kembali cerah.
Ini adalah area yang paling sulit bagi budaya Timur. Orang tua sering menganggap dirinya “Dewa” bagi anak. “Masa orang tua minta maaf ke anak kecil? Mau ditaruh dimana muka saya?”
Pemikiran ini salah besar.
Peribahasa mengatakan:
人非圣贤,孰能无过 (Rén fēi shèng xián, shú néng wú guò) “Manusia bukanlah Orang Suci, siapa yang bisa luput dari kesalahan?”
Jika Anda salah (misal: memarahi anak padahal dia tidak salah, atau ingkar janji), minta maaflah.
Dengan meminta maaf kepada anak, Anda sedang mengajarkan dua hal hebat:
Anak tidak akan meremehkan orang tua yang berani minta maaf. Justru mereka akan sangat menghormati Anda karena kejujuran Anda. Itu adalah Tao dalam Parenting.
Dalam pergaulan sosial, seringkali kita tidak sengaja menyakiti orang lain. Gengsi membuat kita berpikir, “Ah, biarin aja, nanti juga lupa sendiri.” Padahal, kesalahan yang tidak dimaafkan akan menjadi Hutang Karma.
Taoisme mengajarkan 修道 (Xiu Dao) atau kultivasi diri. Salah satu cara membersihkan batin adalah dengan 忏悔 (Chàn Huǐ) atau pengakuan salah.
知错能改,善莫大焉 (Zhī cuò néng gǎi, shàn mò dà yān) “Tahu kesalahan dan mampu memperbaikinya, tiada kebaikan yang lebih besar dari itu.”
Jangan menunggu Lebaran atau Imlek untuk minta maaf. Jika sadar salah, katakan segera. Gengsi hanya akan membusuk menjadi penyesalan. Orang lain mungkin bisa melupakan kesalahan kita, tapi batin kita akan terus mencatatnya sebagai beban. Minta maaf adalah cara meletakkan beban itu.
Dalam budaya Tionghoa, orang takut “Kehilangan Muka” (Diū Liǎn). Tapi Taoisme mengajarkan kita untuk mencari “Wajah Asli” (Original Face).
Wajah asli kita adalah polos, jujur, dan rendah hati. Topeng gengsi itulah yang palsu.
Mulai hari ini, mari kita berlatih mantra sakti yang lebih sulit daripada mantra memanggil hujan, yaitu mengucapkan: “Maaf, saya salah. Maaf, saya telah menyakiti hatimu.”
Ucapkan pada istri, pada suami, pada anak, pada teman. Rasakan betapa ringannya hati Anda setelah mengucapkannya. Saat itulah Anda sedang berjalan selaras dengan Tao, lembut seperti air, namun kuat menghidupi segalanya.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
