

Last Updated on February 11, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Lampion merah mulai digantung, aroma kue keranjang mulai tercium, dan nuansa musim semi mulai terasa. Tahun Baru Imlek, atau Chūn Jié (春节), bukan sekadar pergantian kalender bagi masyarakat Tionghoa. Ini adalah momen sakral di mana siklus alam semesta (Tao) diperbarui.
Di tengah riuhnya suara petasan dan sibuknya persiapan baju baru, ada makna spiritual mendalam yang sering terlupakan: Imlek adalah momentum terbesar untuk Revisi Diri (Xiū Shēn).
Seperti peribahasa kuno mengatakan: 一元复始,万象更新 (Yī yuán fù shǐ, wàn xiàng gēng xīn) “Satu siklus bermula kembali, sepuluh ribu hal diperbarui.”
Pembaruan ini tidak boleh berhenti pada “baju baru” atau “rejeki baru”, tetapi harus menembus hingga ke “hati yang baru”.
Seminggu sebelum Imlek, setiap keluarga sibuk melakukan Dǎ Sǎo Chú (打扫除) atau bersih-bersih rumah besar-besaran. Debu disapu, barang rusak dibuang, kaca dilap hingga kinclong.
Dalam pandangan Tao, debu dan kotoran fisik adalah sarang dari Shā Qì (Energi Pembunuh/Negatif) dan kesialan (Huì Qì).
Namun, Tao mengajarkan bahwa “Rumah” yang sesungguhnya adalah Tubuh dan Pikiran kita.
Laozi dalam Daodejing Bab 15 mengajarkan:
孰能浊以静之徐清? (Shú néng zhuó yǐ jìng zhī xú qīng?) “Siapakah yang dapat membuat air keruh menjadi jernih? Dengan diam dan tenang, perlahan kotoran itu mengendap.”
Maka, bersih-bersih Imlek adalah meditasi gerak. Kita membuang yang keruh (Zhuo) agar yang jernih (Qing) bisa masuk. Tanpa hati yang bersih, Dewa Rejeki (Cai Shen) pun enggan mampir, karena energi suci tidak bisa bercampur dengan kekotoran batin.
Puncak Imlek bukanlah pada hari H-nya, melainkan pada Malam Tahun Baru (Chú Xī), saat seluruh keluarga berkumpul makan malam bersama.
Ini adalah manifestasi dari Hé (和) atau Harmoni. Peribahasa Tiongkok yang sangat terkenal berbunyi:
家和万事兴 (Jiā hé wàn shì xīng) “Jika keluarga harmonis, maka sepuluh ribu urusan (segala hal) akan sukses/bangkit.”
Bagi umat Tao, berbakti dan menjaga keutuhan keluarga adalah fondasi dari segala ibadah. Jangan sibuk sembahyang ke kelenteng meminta berkah jika di meja makan Anda masih bermusuhan dengan saudara atau orang tua.
Revisi diri di momen ini adalah: “Sudahkah saya menjadi perekat bagi keluarga saya tahun ini? Atau saya justru menjadi pemecah belah?” Makanan terlezat di malam Imlek bukanlah Haisom atau Abalone, melainkan senyuman tulus yang saling memaafkan antar anggota keluarga.
Salah satu tradisi unik jelang Imlek adalah mengantar Dewa Dapur (Zào Jūn) naik ke langit (tanggal 23/24 bulan 12 Imlek). Konon, beliau akan melaporkan perbuatan baik dan buruk keluarga tersebut kepada Kaisar Langit (Yù Huáng Dà Dì).
Banyak orang menyogok Dewa Dapur dengan manisan agar “laporannya manis-manis saja”. Ini adalah kelucuan manusia.
Sejatinya, tradisi ini mengajarkan Akuntabilitas Moral. Kita diajak untuk melakukan Sān Xǐng (三省) atau Tiga Kali Introspeksi Diri setiap hari, seperti ajaran leluhur.
Revisi diri berarti kita berani melihat “buku raport” kehidupan kita sendiri sebelum dilaporkan ke Langit. Jika ada kesalahan, segera perbaiki (Po Un batin) sebelum tahun berganti. Jangan bawa sampah karma tahun lalu ke tahun yang baru.
Imlek identik dengan Angpao merah. Seringkali kita fokus pada “Mendapat”, padahal esensi Tao adalah “Memberi”.
Memberi Angpao adalah praktik melepas kemelekatan pada materi dan melancarkan aliran Qi kemakmuran. Dalam Taoisme, air yang ditahan dan tidak mengalir akan membusuk, sedangkan air yang dialirkan akan tetap segar dan membawa kehidupan. Begitu pula dengan rejeki.
Revisi diri kita adalah: Belajar memberi tanpa pamrih. Jangan memberi dengan hitung-hitungan untung rugi. Saat tangan kita terbuka untuk memberi, saat itulah tangan kita siap untuk menerima berkah baru. Jika hati sempit (pelit), rejeki sempit. Jika hati lapang (murah hati), rejeki seluas samudra.
Menyambut Tahun Baru bukan sekadar mengganti kalender dinding. Itu adalah ritual spiritual untuk Terlahir Kembali.
Mari kita sambut Imlek dengan kesadaran penuh. Bukan hanya memohon “Semoga saya kaya”, tapi berdoalah “Semoga saya menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih bermanfaat bagi sesama.”
Seperti ayat dalam kitab Taishang Ganying Pian: “Jauhi kejahatan, lakukan kebaikan. Maka keberuntungan akan mengikuti seperti bayangan.”
Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa Cai, Wan Shi Ru Yi. (Selamat Berbahagia dan Makmur, Semoga Segala Hal Sesuai Kehendak Hati yang Baik).
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
