siutaocom logo final v2siutaocom logo final v2siutaocom logo final v2siutaocom logo final v2
  • Home
  • SiuTao
    • Pengenalan Tao
    • Sejarah Tao
    • Kitab Suci Tao
    • Upacara Tao
    • Video Tao
  • News
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Directory
    • Dewa-Dewi Tao
    • Buku Buku Tao
  • Articles
    • Serba-Serbi Tao
  • Contact
    • Lokasi Taokwan
    • Hubungi Kami
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
✕

Untuk Apa

  • Home
  • Blog
  • Articles
  • Untuk Apa
Tradisi orang Tionghoa menyambut Imlek
February 11, 2026

Untuk Apa

"Untuk Apa ?"

Refleksi diri menjadi lebih Baik ~ "Xiu Xin Yang Xing" (修心养性)
Post Views: 17

Last Updated on February 13, 2026 by STC-XZW

Da Jia Xue Dao Hao,

Salam Tao…

“Untuk Apa?”: Menemukan Jawaban Sebelum Waktu Habis

Di tengah hiruk pikuk pencapaian, validasi media sosial, dan perlombaan karier, musisi Hindia (Baskara Putra) pernah melemparkan sebuah pertanyaan yang menohok ulu hati lewat lagunya yang berjudul “Untuk Apa”:

“Mengejar mimpi sampai tak punya waktu… Mengejar mimpi sampai lupa keluarga… Untuk apa? Untuk apa?”

Lagu ini menyuarakan kecemasan eksistensial generasi kita. Kita disuruh sekolah tinggi-tinggi, bekerja keras, menumpuk harta, dan mengejar status. Tapi setelah semua itu didapat, lalu apa? Jika akhirnya kita kesepian, sakit-sakitan, atau merasa hampa, semua keringat itu… untuk apa?

Manusia, setidaknya, harus memiliki Tujuan (Purpose) yang melampaui sekadar bertahan hidup. Jika tidak, kita hanya akan menjadi apa yang disebut peribahasa Tiongkok sebagai:

行尸走肉 (Xíng shī zǒu ròu) “Mayat berjalan, daging yang berlari.” (Hidup secara fisik, tapi mati secara jiwa/tujuan).

1. Jebakan “Lebih Banyak”: Ilusi Tanpa Tujuan

Dalam Taoisme, masalah utama manusia modern adalah kita tersesat dalam Keinginan (Desire) tanpa memiliki Arah (Way/Tao).

Kita mengira tujuan hidup adalah “Mengumpulkan” (Harta, Gelar, Follower). Padahal, Laozi dalam Tao Te Ching Bab 9 memperingatkan:

金玉满堂,莫之能守 (Jīn yù mǎn táng, mò zhī néng shǒu) “Emas dan giok memenuhi ruangan, namun tak ada yang bisa menjaganya (selamanya).”

Jika tujuan hidup Anda hanya untuk mengumpulkan, maka jawaban dari pertanyaan “Untuk Apa?” akan selalu berakhir tragis: “Untuk ditinggalkan saat mati.”

Jawaban yang menyedihkan, bukan?

Itulah mengapa lagu Hindia bertanya, “Untuk apa menumpuk ilmu, jika tak ada gunanya?” Harta dan ilmu yang tidak mengalir, yang tidak memiliki muara tujuan (pengabdian/kebaikan), akan menjadi beban, bukan berkah.

2. Memiliki Tujuan: Kompas di Lautan Badai

Hidup tanpa tujuan itu seperti naik taksi yang argometernya jalan terus, tapi kita tidak tahu mau ke mana. Mahal, capek, tapi hanya berputar-putar.

Dalam filosofi Tiongkok, ada istilah 初心 (Chū Xīn) — Hati Pemula atau Niat Awal. Peribahasa mengatakan:

不忘初心,方得始终 (Bù wàng chū xīn, fāng dé shǐ zhōng) “Jangan melupakan niat awalmu, baru kamu bisa mencapai garis akhir dengan sukses.”

Tujuan hidup adalah Chū Xīn kita.

  • Mengapa Anda bekerja keras? “Untuk membahagiakan orang tua.” (Itu tujuan).
  • Mengapa Anda ingin kaya? “Agar bisa membantu yayasan sosial.” (Itu tujuan).

Ketika Anda tahu “Untuk Apa” Anda berjuang, lelahnya kerja lembur tidak akan terasa menyiksa. Penderitaan menjadi bermakna.

Seperti kata filsuf Friedrich Nietzsche (yang selaras dengan semangat ini): “He who has a why to live can bear almost any how.” (Dia yang punya alasan UNTUK APA dia hidup, bisa menanggung BAGAIMANA PUN caranya).

3. Jawaban dari Tao: Kembali dan Memberi

Lalu, apa tujuan hidup yang ideal menurut Taoisme? Apakah harus menjadi pahlawan super?

Tidak. Tao mengajarkan kesederhanaan. Tujuan hidup manusia adalah:

  1. Xiu Dao (修道): Memperbaiki Diri. Menjadi manusia yang lebih berbudi luhur hari ini daripada kemarin.
  2. Ji Shi (济世): Memberi Manfaat pada Dunia.

Laozi mengajarkan filosofi Air (Shang Shan Ruo Shui). Air tidak pernah bertanya “Untuk apa aku mengalir?”. Ia hanya mengalir, menghidupi tanaman, membersihkan kotoran, dan akhirnya pulang ke lautan.

Tujuan hidup kita adalah menjadi saluran berkat.

  • Tangan kita bekerja bukan hanya untuk mengisi perut sendiri, tapi untuk menolong yang jatuh.
  • Mulut kita bicara bukan untuk menyakiti, tapi untuk menghibur yang sedih.

4. Menjawab Pertanyaan Akhir

Suatu hari nanti, di ujung usia, saat napas sudah sampai di tenggorokan, batin kita akan mengajukan pertanyaan ujian terakhir:

“Hai jiwa, kamu sudah diberi waktu puluhan tahun di dunia. Kamu sudah diberi tubuh, akal, dan rejeki. Semua itu… Untuk Apa?“

Jangan sampai kita tergagap dan hanya bisa menjawab: “Emm… untuk beli iPhone terbaru? Untuk pamer di Instagram? Untuk mengalahkan saingan bisnis?”

Itu adalah jawaban yang akan membawa penyesalan abadi.

Hiduplah sedemikian rupa, sehingga Anda bisa menjawab dengan tenang: “Semua itu saya gunakan untuk belajar mencintai, untuk memperbaiki karakter saya yang buruk, untuk berbakti pada orang tua, dan untuk meninggalkan dunia ini sedikit lebih baik daripada saat saya datang.”

Kesimpulan: Hiduplah Agar “Ada Gunanya”

Lirik Hindia diakhiri dengan sebuah perenungan tentang kefanaan. “Semua yang sirna, kan kembali…”

Karena kita semua akan pergi, maka satu-satunya cara untuk “abadi” adalah melalui Dampak dan Kebaikan (De) yang kita tinggalkan.

Mulai hari ini, setiap kali Anda merasa lelah, stres, atau galau, berhentilah sejenak. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri: “Hal yang sedang saya galaukan ini… sebenarnya Untuk Apa?“

Jika jawabannya hanya untuk ego, lepaskanlah. Jika jawabannya untuk kebaikan dan cinta kasih, lanjutkanlah perjuangan itu.

Hiduplah dengan tujuan. Agar kelak kita tidak mati sebagai “mayat yang berlari”, melainkan pulang sebagai jiwa yang telah paripurna menunaikan tugasnya. Yuk mendekati Imlek saatnya kita kita ini butuh refleksi dan retrospeksi.

Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi… 

Xie Shen En

Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.


Please Share Us :

Related posts

February 11, 2026

Tradisi orang Tionghoa menyambut Imlek


Read more
January 26, 2026

Kekuatan dalam kata MAAF


Read more
January 23, 2026

Sains n Spiritualitas Meditasi


Read more

Search

✕

Perjalanan Spiritual Taoism

«
Prev
1
/
40
Next
»
loading
play

Upacara Kwee Pang & Tao Ying Peserta Dari Amerika & Puerto Rico | 8 Sept2024 by Master Flyming Lika
play

Pelantikan jubah kuning (huang yi) Jakarta 07 july 2024 by master Flyming Lika
play

Upacara pemberkatan rupang Dewa, angkat anak,Taoying by Master Flyming Lika 24 april 2024
play

Upacara Lien Hun Du Jie 2024 by master Flyming Lika
play

Perayaan hari kebesaran MAHA DEWA Thay Shang Lao Jun Ji Ri 20 Juni 2024 by Master Flyming LIka
play

Upacara Tolak bala (POUN)2024 by Flyming Lika
«
Prev
1
/
40
Next
»
loading

Berita Regional lainnya

  • Upacara Sembahyang Cap Go Meh – Bandung
  • Tour Keliling Kelenteng – Taokwan Sinar Mulia – Bandung 2016
  • Tur Keliling Kelenteng Taoyu Manado 2016
  • Rekreasi bersama Tao Yu Bandung – Taman Hutan Raya – Ir.H.Djuanda
  • Rekreasi ke Goa Belanda dan Goa Jepang bersama Tao yu Bandung.

Recent Posts

  • Untuk Apa
    February 13, 2026
  • Tradisi orang Tionghoa menyambut Imlek
    February 11, 2026
  • Kekuatan dalam kata MAAF
    January 26, 2026
  • Sains n Spiritualitas Meditasi
    January 23, 2026
  • Cara Sembahyang yang Benar
    January 20, 2026

SiuTao Indonesia

Wadah Revisi Diri mencapai Kesadaran Tertinggi - Jelajah TAO dengan sukacita

Notes :

Da Jia Xue Tao Hao…

Untuk website Siutao ini masih dalam tahap pengembangan untuk itu sembari berjalan mohon masukan dan kritikannya disalurkan lewat

email  : contact@siutao.com

Terima kasih.
Xie Shen En

Lainnya

  • Hubungi Kami
  • Pernyataan Pelayanan
  • Kebijaksanaan Kerahasiaan
  • Donasi

Search

✕

Recent posts

  • Untuk Apa
    February 13, 2026
  • Tradisi orang Tionghoa menyambut Imlek
    February 11, 2026
Copyright © 2000 SiuTao Indonesia 正道李尚湖