
Last Updated on July 16, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Mari kita renungkan sebuah fenomena psikologis yang sangat jujur dan sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari:
Ketika kita sudah terlanjur tidak menyukai atau membenci seseorang, apa pun yang ia lakukan akan selalu terlihat salah di mata kita.
Sebaliknya, jika kita menyukai seseorang, kelemahannya pun akan terlihat maklum. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah orang tersebut yang benar-benar menjengkelkan, atau sebenarnya “kacamata” kitalah yang sedang kotor oleh debu kebencian?
Dalam ajaran Taoisme dan tradisi budi pekerti Tiongkok kuno, fenomena ini adalah teguran keras bagi jiwa kita. Ketika batin kita dipenuhi oleh penolakan dan kebencian, kita kehilangan objektivitas. Kita tidak lagi melihat manusia, melainkan melihat proyeksi dari ego dan rasa tidak suka kita sendiri.
Bagaimana Tao dan leluhur kita memberikan jalan keluar agar kita bisa kembali melihat sisi positif sesama?
Ada sebuah peribahasa kebijaksanaan Tiongkok kuno yang sangat mendalam:
相由心生 (Xiàng yóu xīn shēng) “Wujud (penampakan) yang kita lihat, lahir dari kondisi pikiran/hati kita sendiri.”
Orang tua zaman dulu sering berpesan, dunia ini adalah cermin raksasa bagi batin Anda. Jika hati Anda sedang dipenuhi duri kebencian, maka Anda akan melihat semua orang di sekeliling Anda seolah-olah memiliki duri yang siap melukai Anda.
Pakaian yang rapi dan penjelasan yang rinci adalah fakta netral. Namun, label “banyak gaya” dan “banyak omong” adalah ilusi/asumsi yang diproduksi oleh hati yang kotor. Ajaran Tao mengingatkan bahwa penderitaan batin kita sering kali bukan disebabkan oleh orang lain, melainkan oleh ketidakmampuan kita untuk membersihkan “cermin hati” kita sendiri dari debu prasangka.
Filsuf Tao, Zhuangzi, pernah mengibaratkan pikiran manusia seperti genangan air. Jika air itu bergolak, beriak, dan penuh lumpur (emosi negatif/kebencian), ia tidak akan bisa memantulkan bayangan dengan benar. Pohon yang lurus akan terlihat bengkok di atas air yang beriak. Namun, jika air itu tenang dan jernih (Jing), ia akan memantulkan realitas apa adanya, tanpa distorsi.
Setiap manusia di dunia ini memiliki elemen Yin (kekurangan/keburukan) dan Yang (kelebihan/kebaikan). Tidak ada yang murni sempurna, dan tidak ada yang murni jahat. Ketika kebencian datang, air di batin Anda bergejolak. Akibatnya, Anda menjadi buta terhadap Yang (sisi positif) dari orang tersebut, dan hanya fokus membesarkan sisi Yin-nya. Mengembalikan kejernihan air berarti memaksa ego kita untuk mundur selangkah, menarik napas panjang, dan mencoba mencari kebaikan sekecil apa pun dari orang yang kita tidak sukai.
Dalam pendidikan moral (budi pekerti) kebudayaan Tiongkok, ada satu pedoman emas dalam berinteraksi sosial yang masih dipegang teguh hingga kini:
严以律己,宽以待人 (Yán yǐ lǜ jǐ, kuān yǐ dài rén) “Tegas dan disiplinlah dalam menilai dirimu sendiri, namun bersikaplah lapang dada dan toleran dalam menilai orang lain.”
Sering kali, penyakit manusia modern adalah kebalikannya. Kita sangat pemaaf terhadap kesalahan kita sendiri, namun menjadi hakim yang paling kejam bagi kesalahan orang lain.
Jika kita yang berpakaian rapi, kita menyebutnya “menghargai diri sendiri”. Tapi jika orang yang kita benci melakukannya, kita menyebutnya “banyak gaya”. Standar ganda inilah yang merusak keharmonisan. Ajaran budi pekerti menuntut kita untuk memperlebar kapasitas hati (De / Kebajikan). Maafkanlah kelemahan orang lain seperti Anda memaafkan diri Anda sendiri. Berikan ruang bagi mereka untuk bertumbuh, dan jangan biarkan satu atau dua kesalahan menutupi semua kebaikan yang mungkin pernah mereka lakukan.
Menyimpan kebencian dan keengganan untuk melihat sisi positif orang lain ibarat kita meminum racun setiap hari, namun berharap orang yang kita benci itulah yang akan mati.
Orang yang Anda benci mungkin hidup tenang, tidur nyenyak, dan terus berpakaian rapi dengan ceria. Sementara itu, Anda menghabiskan energi, merusak mood Anda sendiri sepanjang hari, dan mengotori karma baik (Qi) Anda hanya karena sibuk memikirkan keburukannya. Siapa yang sebenarnya rugi? Tentu saja Anda sendiri.
Dalam Taoisme, melepaskan kebencian bukanlah tentang membenarkan tindakan salah orang tersebut atau berpura-pura menjadi malaikat. Melepaskan kebencian adalah tindakan menyelamatkan diri sendiri. Anda melepaskan ikatan energi negatif agar roh dan pikiran Anda bisa kembali mengalir bebas (Wu Wei).
Mulai hari ini, ketika Anda bertemu dengan seseorang yang memancing rasa tidak suka Anda, dan pikiran Anda mulai memproduksi kalimat tajam seperti “Ah, sok tahu,” atau “Ah, banyak gaya,” tolong segeralah sadari itu.
Berhentilah sejenak. Sadari bahwa yang berbicara saat itu bukanlah kebenaran, melainkan ego Anda. Lepaskanlah “kacamata” kebencian Anda. Ganti dengan kacamata welas asih.
Cobalah temukan satu saja sisi positif darinya hari itu. Mungkin ia memang banyak bicara, tapi niatnya sebenarnya ingin membantu. Mungkin ia memang berpakaian mencolok, tapi ia sedang berusaha tampil profesional.
Saat Anda berhasil melihat kebaikan di balik tirai rasa tidak suka, saat itulah Anda memenangkan pertempuran batin yang sesungguhnya. Anda tidak hanya mengembalikan kedamaian di dalam hati, tetapi juga sedang mempraktikkan tingkat budi pekerti yang tertinggi dalam perjalanan spiritual Anda.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi.. Selalu Happy Selalu Sehat ~
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
