
Last Updated on November 30, 2025 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Ada satu kalimat yang membingungkan : Kita memiliki segalanya lebih banyak daripada nenek moyang kita, namun kita merasa lebih miskin dan lebih cemas daripada mereka. Betul atau Benar ?
Mengapa? Karena kita telah kehilangan satu kata sakti dalam kamus batin kita: CUKUP.
Kita diajarkan bahwa ambisi itu harus tak terbatas. Jika sudah punya motor, harus punya mobil. Sudah punya mobil, harus punya mobil mewah. Garis finis kebahagiaan terus digeser menjauh setiap kali kita hampir menyentuhnya. Akibatnya, kita berlari di atas treadmill keinginan sampai mati karena kelelahan, tanpa pernah benar-benar sampai ke tujuan. (ya mungkin tidak semua orang, tapi kebanyakan seperti ini bukan ?)
Apalagi yang sudah kaya namun buta karena mencari kekuasaan… Upss…. Dari kita perlu resapi benar benar intisari dari kata “CUKUP”.
Dalam Taoisme, konsep “Cukup” dikenal dengan 知足 (Zhī Zú), yang secara harfiah berarti “Tahu Batas” atau “Tahu Kecukupan”.
Laozi, pendiri Taoisme, menulis dalam Daodejing Bab 44:
知足不辱,知止不殆,可以长久。 (Zhī zú bù rǔ, zhī zhǐ bù dài, kěyǐ chángjiǔ.)
“Ia yang tahu rasa cukup tidak akan dipermalukan. Ia yang tahu kapan harus berhenti tidak akan menemui bahaya. Dengan demikian, ia dapat bertahan lama.”
Ini adalah peringatan keras. Kehancuran (kebangkrutan, penjara karena korupsi, penyakit karena kerja berlebihan) jarang terjadi pada orang yang tahu kata “Cukup”. Kehancuran hampir selalu menimpa mereka yang tidak tahu kapan harus berhenti.
“Cukup” dalam Taoisme bukan berarti malas atau tidak punya ambisi. “Cukup” adalah titik keseimbangan. Seperti minum air: kurang minum Anda haus, kebanyakan minum Anda kembung/muntah. “Cukup” adalah kondisi paling sehat.
Ada peribahasa Tiongkok yang sangat terkenal (dan agak mengerikan) tentang bahaya tidak merasa cukup:
人心不足蛇吞象 (Rén xīn bù zú shé tūn xiàng) “Hati manusia yang tidak puas ibarat ular yang mencoba menelan gajah.”
Bayangkan seekor ular kecil yang serakah. Ia melihat gajah dan menginginkannya. Karena nafsu, ia memaksa membuka mulutnya. Apa yang terjadi? Ia tidak menjadi kenyang, ia justru mati karena perutnya pecah.
Banyak masalah manusia sekarang ini, mulai dari pejabat yang korupsi triliunan padahal gajinya sudah besar, hingga anak muda yang terjerat pinjol demi gaya hidup adalah manifestasi dari “ular menelan gajah”. Kapasitas nasib dan wadah kita terbatas, namun keinginan kita tak terbatas. Inilah resep kehancuran.
Definisi “Kaya” dalam Taoisme sangat berbeda dengan definisi Forbes.
Laozi berkata dalam Daodejing Bab 33:
知足者富 (Zhī zú zhě fù) “Orang yang tahu rasa cukup, dialah orang yang (benar-benar) kaya.”
Jika Anda punya 1 Miliar tapi Anda merasa butuh 10 Miliar, maka Anda miskin (karena Anda merasa kurang 9 Miliar). Jika Anda punya 10 Juta tapi Anda merasa cukup dan bahagia, maka Anda kaya (karena Anda tidak merasa kekurangan apa-apa).
Kekayaan bukanlah nominal angka di bank. Kekayaan adalah kondisi mental di mana keinginan tidak lagi menyiksa batin.
Bagaimana melatih kekuatan ini di zaman sekarang?
Kata “CUKUP” bukanlah pembatas. Justru sebaliknya, ia adalah pembebas.
Ketika Anda bisa berkata, “Saya sudah cukup, saya tidak butuh validasi kalian, saya tidak butuh barang mewah itu untuk bahagia,” maka saat itulah Anda menjadi manusia yang paling kuat dan paling merdeka. Tidak ada yang bisa menyuap Anda, tidak ada yang bisa membuat Anda iri, dan tidak ada yang bisa mengintimidasi Anda.
Seperti air yang tenang di dalam cawan, jadilah orang yang penuh bukan karena cawannya raksasa, tapi karena Anda tahu batas airnya.
知足常乐 (Zhī zú cháng lè): “Tahu rasa cukup, maka akan selalu bahagia.”
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
