

Last Updated on December 22, 2025 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Pada setuju tidak bahwa di dunia ini, ada satu jabatan yang tidak memiliki jam kerja, tidak memiliki gaji, dan tidak memiliki hari libur. Jabatan itu adalah Ibu.
Dalam budaya modern, kita sering merayakan Hari Ibu dengan bunga dan kado. Namun, dalam pandangan Taoisme dan budaya Tiongkok kuno, posisi Ibu jauh melampaui sekadar peran sosial. Ibu adalah manifestasi nyata dari Tao (道) itu sendiri di dunia manusia.
Mengapa demikian? Mari kita selami makna Ibu melalui kebijaksanaan kuno.
Laozi, dalam kitab suci Daodejing Bab 52, menuliskan kalimat yang sangat fundamental:
天下有始,以为天下母。 (Tiān xià yǒu shǐ, yǐ wéi tiān xià mǔ) “Dunia ini memiliki permulaan, dan permulaan itu kita anggap sebagai Ibu dari Segala Sesuatu.”
Dalam kosmologi Tao, alam semesta ini tidak diperintah oleh Raja yang otoriter, melainkan dipelihara oleh Ibu Semesta. Sifat Tao adalah melahirkan, memelihara, dan menghidupi tanpa menuntut kepemilikan.
Seorang ibu manusia meniru sifat agung ini. Ia meminjamkan tubuhnya selama 9 bulan untuk membentuk kehidupan baru. Ia mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan. Ia memberi makan dari air susunya sendiri.
Ini adalah manifestasi energi Yin (阴) yang murni: reseptif, menampung, dan memberi kehidupan. Tanpa energi “Ibu” ini, kehidupan akan punah.
Ada sebuah puisi klasik karya Meng Jiao (Dinasti Tang) yang menjadi anthem bakti anak di Tiongkok, berjudul “Senandung Anak Rantau” (游子吟 – Yóuzǐ Yín):
慈母手中线,游子身上衣。 (Cí mǔ shǒu zhōng xiàn, yóu zǐ shēn shàng yī) “Benang di tangan Ibu yang penuh kasih, menjadi baju di badan anak yang akan merantau.”
临行密密缝,意恐迟迟归。 (Lín xíng mì mì féng, yì kǒng chí chí guī) “Menjelang pergi, ia menjahitnya rapat-rapat, takut anaknya akan lama tak kembali.”
Puisi ini menggambarkan detail kecil namun menyayat hati. Ibu menjahit baju anaknya dengan jahitan yang sangat rapat dan kuat. Mengapa? Karena ia khawatir anaknya akan pergi lama sekali, dan ia takut baju itu rusak sebelum anaknya pulang, sementara tidak ada orang lain yang akan menjahitkannya di tanah rantau.
Ini selaras dengan peribahasa: 养儿一百,长忧九十九 (Yǎng ér yī bǎi, cháng yōu jiǔ shí jiǔ) “Membesarkan anak hingga usia 100 tahun, kekhawatiran ibu berlangsung hingga 99 tahun.”
Bagi seorang Ibu, anak tidak pernah menjadi tua. Bahkan jika Anda sudah berusia 50 tahun dan menjadi direktur, di mata Ibu, Anda tetaplah anak kecil yang perlu diingatkan untuk makan dan jangan pulang malam-malam. Kecemasannya adalah bentuk cintanya yang tak bertepi.
Lalu, bagaimana seharusnya sikap seorang anak? Taoisme mengajarkan hukum alam: Reciprocity (Timbal Balik Alami).
谁言寸草心,报得三春晖 (Shuí yán cùn cǎo xīn, bào dé sān chūn huī) “Siapakah yang berani berkata bahwa hati selebar rumput kecil ini, mampu membalas sinar matahari musim semi (kasih ibu)?”
Kita tidak akan pernah bisa membalas jasa Ibu, sama seperti rumput tidak bisa membayar matahari. Namun, kita bisa melakukan satu hal: Menghargai Akar.
Sehebat apapun kita terbang tinggi, jangan pernah melupakan Ibu sebagai akar kehidupan.
Ibu adalah Pintu Gerbang Kehidupan yang dipilihkan Semesta untuk kita. Melalui tubuhnya, kita memasuki dunia Hou Tian (pasca-langit). Melalui kasih sayangnya, kita merasakan sedikit gambaran tentang cinta tanpa syarat dari Tao.
Mencintai Ibu bukan sekadar kewajiban moral, itu adalah praktik spiritual tertinggi.
世上只有妈妈好 (Shì shàng zhǐ yǒu mā mā hǎo) “Di dunia ini, hanya Ibu yang paling baik.”
Semoga kita semua bisa menjadi anak yang tahu berbakti sebelum waktu memisahkan.
Mama Hao! Selamat Hari Ibu ^_^
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
