

Last Updated on November 26, 2025 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Bagi orang awam yang pertama kali melangkah masuk ke dalam kelenteng, pemandangan yang tersaji mungkin tampak membingungkan sekaligus memukau. Asap dupa mengepul, lampion merah bergantungan, dan di altar utama hingga sudut-sudut ruangan, berdiri puluhan bahkan ratusan patung dewa-dewi dengan rupa yang berbeda.
Pertanyaan mendasar sering muncul: “Mengapa Agama Tao menghormati begitu banyak Dewa? Bukankah Tuhan itu satu?” Benar atau Tidak ?
Menurut penulis jawabannya tidak sesederhana politeisme biasa. Dalam Taoisme, keberadaan banyak dewa bukan berarti menafikan keberadaan “Tao” (sumber tunggal semesta), melainkan cerminan dari struktur alam semesta yang teratur, hierarkis, dan penuh dengan jejak kebajikan leluhur.
Dibawah ini beberapa point pandangan yang bisa kita ambil :
Salah satu cara termudah memahami pantheon Taoisme adalah dengan melihatnya sebagai “Pemerintahan Langit”.
Masyarakat Tiongkok kuno percaya bahwa alam semesta (Makrokosmos) bekerja mirip dengan tatanan kekaisaran di bumi (Mikrokosmos). Jika sebuah negara memiliki Kaisar, Menteri, Gubernur, hingga Ketua RT untuk mengurus rakyat, maka Alam Semesta pun demikian.
Mengapa kita perlu sembahyang ke banyak dewa? Karena setiap Dewa memegang “Mandat” atau spesialisasi tertentu. Jika Anda sakit, Anda berdoa kepada Hua Tuo (Dewa Tabib). Jika Anda ingin kelancaran bisnis, Anda menghadap Cai Shen Ye (Dewa Rejeki). Jika Anda ingin perlindungan perjalanan, Anda memohon pada Mazu (Dewi Laut).
Ini mengajarkan kita bahwa alam semesta ini dikelola dengan Keteraturan. Tidak ada yang acak. Sembahyang kepada dewa spesifik adalah bentuk pengakuan kita terhadap tugas dan fungsi mereka dalam menjaga keseimbangan Tao.
Di sinilah letak perbedaan unik Taoisme. Sebagian besar Dewa-Dewi di kelenteng (sering dipanggil Kongco atau Makco) dulunya adalah Manusia Biasa.
Sebut saja Guan Yu (Kwan Kong) yang merupakan jenderal di zaman Tiga Kerajaan, atau Wang Zhen (Wen Zhe Da Jiang Jun) yang merupakan pejabat Dinasti Ming. Mereka lahir, makan, tidur, dan berjuang seperti kita.
Lalu, mengapa mereka dihormati ?
Pepatah Tiongkok berkata: 聪明正直即为神 (Cōngmíng zhèngzhí jí wéi shén) “Orang yang cerdas, bijaksana, lurus, dan jujur, itulah yang menjadi Dewa.”
Dalam Taoisme, batas antara manusia dan dewa dapat ditembus melalui Gong De (Jasa Kebajikan) dan Kultivasi Diri. Ketika seorang manusia hidup dengan moral yang agung, berjasa besar bagi rakyat, dan setia pada kebenaran hingga akhir hayatnya, roh mereka tidak hancur atau sekadar bereinkarnasi biasa. Mereka diangkat oleh Langit untuk memegang jabatan suci.
Oleh karena itu, sembahyang kepada Kongco sejatinya adalah bentuk tertinggi dari Menghormati Leluhur (Xiao/Bakti). Kita tidak sedang menyembah berhala batu, kita sedang memberikan penghormatan kepada “Senior Agung” kita. Kita menghormati semangat, perjuangan, dan warisan moral yang mereka tinggalkan.
Seperti peribahasa: 饮水思源 (Yǐn shuǐ sī yuán) “Saat minum air, jangan lupa pada sumbernya.”
Para Dewa adalah sumber inspirasi moral. Sembahyang kepada mereka adalah cara kita berjanji untuk meneladani sifat-sifat mulia mereka.
Banyak orang datang ke kelenteng membawa hio (dupa) demi meminta kekayaan, jodoh, atau kesembuhan. Seringkali, doa itu terkabul. Pertanyaannya: Bagaimana mekanismenya? Apakah Dewa butuh disogok dengan buah dan ayam panggang?
Tentu tidak. Para Dewa sudah suci, mereka tidak butuh makan. Sajian adalah simbol ketulusan hati kita, bukan alat tukar.
Mekanisme doa dalam Taoisme dikenal dengan istilah 感应 (Gǎn Yìng) atau Resonansi.
Bayangkan Dewa adalah pemancar sinyal radio dengan frekuensi “Kebajikan Murni”. Dupa dan doa adalah antenanya. Namun, agar doa Anda tersambung, frekuensi hati Anda harus sama dengan frekuensi Dewa.
Keberuntungan dalam Taoisme bukanlah hadiah acak, melainkan hasil dari penyelarasan energi (Qi). Ketika Anda bersembahyang dengan tulus, merenungkan sifat luhur sang Dewa, dan memperbaiki kelakuan Anda (Adab), maka energi tubuh Anda (Microcosm) akan selaras dengan energi Dewa (Macrocosm). Keselarasan inilah yang membuka pintu-pintu peluang yang kita sebut “Hoki”.
Pepatah kuno mengingatkan: 举头三尺有神明 (Jǔ tóu sān chǐ yǒu shén míng) “Tiga kaki di atas kepalamu, ada Dewa yang mengawasi.”
Ini bukan ancaman, melainkan pengingat bahwa koneksi spiritual itu selalu ada. Keberuntungan datang pada mereka yang sadar bahwa setiap tindakan mereka diawasi dan dicatat oleh semesta.
Pada akhirnya, tradisi sembahyang Taoisme ke banyak dewa adalah sebuah sistem pendidikan moral yang canggih.
Kelenteng adalah sekolah kehidupan.
Kita tidak menyembah patung. Kita “meminjam” rupa patung tersebut untuk memvisualisasikan kebajikan yang abstrak.
Jadi, ketika Anda memegang hio dan membungkuk, ingatlah bahwa Anda sedang terhubung dengan sejarah ribuan tahun, Anda sedang menyapa leluhur yang telah sukses menaklukkan diri sendiri, dan Anda sedang menyelaraskan frekuensi batin Anda untuk menjemput nasib baik melalui perbaikan diri.
Itulah misteri indahnya ajaran Tao: Mengubah manusia biasa menjadi mulia melalui penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita dalam keabadian.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
