
Last Updated on January 14, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Di saat ini banyak sekali kita menyaksikan sebuah fenomena menyedihkan: krisis kepercayaan global.
Kita melihat pemimpin-pemimpin dunia, seperti dalam kasus politik Amerika Serikat, yang menurut keyakinan saya sebagai penulis di bawah pendekatan “transaksional” ala Trump, yang dengan mudah menarik diri dari perjanjian internasional, mengkritik sekutu lama, dan membatalkan komitmen organisasi demi slogan “kepentingan nasional” atau keuntungan sepihak.
Akibatnya sangat fatal. Meskipun mungkin ada keuntungan ekonomi jangka pendek, harga yang dibayar adalah isolasi. Negara-negara lain mulai memandang dengan curiga, aliansi retak, dan rasa hormat lenyap. Ketika krisis datang, tidak ada lagi tangan yang mau menyambut karena kepercayaan (Trust) telah digadaikan demi ego.
Namun, fenomena ini tidak hanya terjadi di Gedung Putih. Tanpa kita sadari, kanker “kepentingan sepihak” ini bisa juga menggerogoti organisasi keagamaan dan komunitas spiritual kita sendiri.
Dalam budaya Tiongkok dan filosofi Timur, kepercayaan disebut 信 (Xìn). Ini adalah salah satu dari Lima Kebajikan Utama (Wǔ Cháng).
Kali ini saya kutip dari Confucius, yang pernah memberikan peringatan keras yang sangat relevan saat ini:
人而无信,不知其可也 (Rén ér wú xìn, bù zhī qí kě yě) “Manusia tanpa kepercayaan (integritas), aku tidak tahu bagaimana ia bisa menjalani hidup.”
Bahkan Laozi dalam Tao Te Ching (Bab 17) memberikan hukum besi tentang hubungan timbal balik yang sangat relevan dengan situasi geopolitik saat ini:
信不足焉,有不信焉 (Xìn bùzú yān, yǒu bùxìn yān) “Jika (pemimpin) tidak cukup memiliki kepercayaan (integritas), maka tidak akan ada kepercayaan (dari orang lain) kepadanya.”
Bayangkan sebuah kereta tanpa poros roda; ia tidak akan bisa berjalan. Begitu pula pemimpin atau organisasi. Sekuat apapun militer atau sebanyak apapun uang kas organisasi, jika Xin hilang, keruntuhan hanyalah soal waktu.
Ketika seorang pemimpin mengkhianati kesepakatan demi keuntungan sendiri, dia sedang menghancurkan “poros roda”-nya sendiri. Ia mungkin merasa menang hari ini, tapi besok ia tidak akan bisa bergerak ke mana-mana karena jalan di depannya telah ditutup oleh ketidakpercayaan orang lain.
Apa yang terjadi di panggung dunia saat ini adalah contoh nyata dari pelanggaran prinsip Tao: Keserakahan (Tan) yang menutupi Kebajikan (De).
Ada peribahasa Tiongkok yang berbunyi: 众叛亲离 (Zhòng pàn qīn lí) “Massa memberontak, dan orang-orang terdekat pun pergi meninggalkan.”
Ini adalah nasib akhir dari pengkhianat. Ketika sebuah negara atau pemimpin terus-menerus mengubah aturan main demi keuntungan sepihak, sekutu terdekat pun akan muak. Mereka menjadi “Gu Jia Gua Ren” (孤家寡人) — Penguasa yang kesepian di istana yang megah.
Dalam Taoisme, pemimpin yang baik adalah seperti air (Shang Shan Ruo Shui) yang memberi manfaat ke bawah, bukan menyedot air ke atas untuk diri sendiri. Ketika pemimpin bertindak seperti “Api” yang membakar segalanya demi ambisi, ia akhirnya akan membakar habis kepercayaan yang menjadi oksigennya.
Yang lebih menakutkan, pola yang menurut keyakinan saya mungkin saya sebut “Trumpisme” atau pengutamaan kepentingan pribadi ini sering terjadi di tempat yang seharusnya paling suci: Organisasi Keagamaan.
Berapa sering mungkin yaaaaaaa, misalnya yaaa dan ini kemungkinan saja, kita melihat ketua yayasan, pengurus klenteng, atau pemimpin spiritual yang:
Mereka berlindung di balik jubah agama, namun perilakunya murni transaksional. Mereka melakukan apa yang disebut peribahasa:
挂羊头,卖狗肉 (Guà yáng tóu, mài gǒu ròu) “Menggantung kepala kambing, tapi menjual daging anjing.”
Di luar terlihat suci dan melayani umat, tapi di dalam mereka menjual prinsip demi keuntungan pribadi.
Bahkan mungkin ada juga yang bukan pemimpin, hanya umat namun terus menerus mencari jabatan / nama di dalam suatu non profit keagamaan, dengan cara yang tidak baik seperti mencoba menjelekkan anggota umat lainnya. (ini hanya CONTOH jika kamu yang lagi baca tapi merasa diri kamu, ya maafkan ya…)
Dalam pandangan Tao, sebuah organisasi hidup karena adanya aliran Qi (Energi) yang harmonis. Kepercayaan adalah perekat yang menjaga Qi itu tetap utuh.
Ketika pengurus, pemimpin ataupun umat juga yang berkhianat demi kepentingan sepihak:
Taoisme mengajarkan bahwa Langit dan Bumi itu abadi karena mereka tidak hidup untuk dirinya sendiri (Daodejing Bab 7).
Pemimpin negara maupun pemimpin agama harus ingat: Jabatan adalah mandat, bukan milik pribadi.
Jika ingin mengembalikan kepercayaan yang telah rusak, tidak ada jalan pintas. Seseorang harus kembali mempraktikkan De (Kebajikan) dengan konsisten. Bukan dengan pidato manis, tapi dengan membuktikan bahwa kepentingan orang banyak (Public Interest) diletakkan di atas kepentingan pribadi (Self Interest).
Ingatlah peribahasa ini sebelum tergoda untuk berkhianat:
利令智昏 (Lì lìng zhì hūn) “Keuntungan (profit) membuat kebijaksanaan menjadi buta/pingsan.”
Jangan biarkan keuntungan sesaat membutakan mata batin kita. Karena sekali kepercayaan itu pecah, ia ibarat kaca yang retak; meski direkatkan kembali, bayangannya tidak akan pernah sempurna lagi.
Jadilah orang yang bisa dipegang kata-katanya. Karena di akhir hari, saat jabatan dan harta tak lagi berarti, hanya Nama Baik dan Kepercayaan yang menjadi warisan abadi kita.
Contoh diatas adalah dalam organisasi, egoisme berada di setiap INSAN MANUSIA, jadi bisa dibilang berada di semua tempat juga seperti tempat kerja anda, bisnis bareng, pertemanan, bahkan dalam keluarga anda. Jadi yang bisa merubah semuanya hanya bergantung pada DIRI KITA SENDIRI. Apapun konsekuensinya hanya KAMU yang bisa mengontrol DIRI KAMU SENDIRI.
Jadi ingat kata Shifu dan Ming Zhu Zhang Men Ren Lie Ming Shen sering katakan kita harus mengubah sikap dari “Ada aku, tidak ada kamu”, menjadi “Ada aku, baru ada kamu”, dan selanjutnya menjadi “Ada kamu, baru ada aku”. Dari sini maka setiap hubungan yang bersifat Transaksional bisa lama2 akan terkikis.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
