
Last Updated on February 13, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Di tengah hiruk pikuk pencapaian, validasi media sosial, dan perlombaan karier, musisi Hindia (Baskara Putra) pernah melemparkan sebuah pertanyaan yang menohok ulu hati lewat lagunya yang berjudul “Untuk Apa”:
“Mengejar mimpi sampai tak punya waktu… Mengejar mimpi sampai lupa keluarga… Untuk apa? Untuk apa?”
Lagu ini menyuarakan kecemasan eksistensial generasi kita. Kita disuruh sekolah tinggi-tinggi, bekerja keras, menumpuk harta, dan mengejar status. Tapi setelah semua itu didapat, lalu apa? Jika akhirnya kita kesepian, sakit-sakitan, atau merasa hampa, semua keringat itu… untuk apa?
Manusia, setidaknya, harus memiliki Tujuan (Purpose) yang melampaui sekadar bertahan hidup. Jika tidak, kita hanya akan menjadi apa yang disebut peribahasa Tiongkok sebagai:
行尸走肉 (Xíng shī zǒu ròu) “Mayat berjalan, daging yang berlari.” (Hidup secara fisik, tapi mati secara jiwa/tujuan).
Dalam Taoisme, masalah utama manusia modern adalah kita tersesat dalam Keinginan (Desire) tanpa memiliki Arah (Way/Tao).
Kita mengira tujuan hidup adalah “Mengumpulkan” (Harta, Gelar, Follower). Padahal, Laozi dalam Tao Te Ching Bab 9 memperingatkan:
金玉满堂,莫之能守 (Jīn yù mǎn táng, mò zhī néng shǒu) “Emas dan giok memenuhi ruangan, namun tak ada yang bisa menjaganya (selamanya).”
Jika tujuan hidup Anda hanya untuk mengumpulkan, maka jawaban dari pertanyaan “Untuk Apa?” akan selalu berakhir tragis: “Untuk ditinggalkan saat mati.”
Jawaban yang menyedihkan, bukan?
Itulah mengapa lagu Hindia bertanya, “Untuk apa menumpuk ilmu, jika tak ada gunanya?” Harta dan ilmu yang tidak mengalir, yang tidak memiliki muara tujuan (pengabdian/kebaikan), akan menjadi beban, bukan berkah.
Hidup tanpa tujuan itu seperti naik taksi yang argometernya jalan terus, tapi kita tidak tahu mau ke mana. Mahal, capek, tapi hanya berputar-putar.
Dalam filosofi Tiongkok, ada istilah 初心 (Chū Xīn) — Hati Pemula atau Niat Awal. Peribahasa mengatakan:
不忘初心,方得始终 (Bù wàng chū xīn, fāng dé shǐ zhōng) “Jangan melupakan niat awalmu, baru kamu bisa mencapai garis akhir dengan sukses.”
Tujuan hidup adalah Chū Xīn kita.
Ketika Anda tahu “Untuk Apa” Anda berjuang, lelahnya kerja lembur tidak akan terasa menyiksa. Penderitaan menjadi bermakna.
Seperti kata filsuf Friedrich Nietzsche (yang selaras dengan semangat ini): “He who has a why to live can bear almost any how.” (Dia yang punya alasan UNTUK APA dia hidup, bisa menanggung BAGAIMANA PUN caranya).
Lalu, apa tujuan hidup yang ideal menurut Taoisme? Apakah harus menjadi pahlawan super?
Tidak. Tao mengajarkan kesederhanaan. Tujuan hidup manusia adalah:
Laozi mengajarkan filosofi Air (Shang Shan Ruo Shui). Air tidak pernah bertanya “Untuk apa aku mengalir?”. Ia hanya mengalir, menghidupi tanaman, membersihkan kotoran, dan akhirnya pulang ke lautan.
Tujuan hidup kita adalah menjadi saluran berkat.
Suatu hari nanti, di ujung usia, saat napas sudah sampai di tenggorokan, batin kita akan mengajukan pertanyaan ujian terakhir:
“Hai jiwa, kamu sudah diberi waktu puluhan tahun di dunia. Kamu sudah diberi tubuh, akal, dan rejeki. Semua itu… Untuk Apa?“
Jangan sampai kita tergagap dan hanya bisa menjawab: “Emm… untuk beli iPhone terbaru? Untuk pamer di Instagram? Untuk mengalahkan saingan bisnis?”
Itu adalah jawaban yang akan membawa penyesalan abadi.
Hiduplah sedemikian rupa, sehingga Anda bisa menjawab dengan tenang: “Semua itu saya gunakan untuk belajar mencintai, untuk memperbaiki karakter saya yang buruk, untuk berbakti pada orang tua, dan untuk meninggalkan dunia ini sedikit lebih baik daripada saat saya datang.”
Lirik Hindia diakhiri dengan sebuah perenungan tentang kefanaan. “Semua yang sirna, kan kembali…”
Karena kita semua akan pergi, maka satu-satunya cara untuk “abadi” adalah melalui Dampak dan Kebaikan (De) yang kita tinggalkan.
Mulai hari ini, setiap kali Anda merasa lelah, stres, atau galau, berhentilah sejenak. Tarik napas. Tanyakan pada diri sendiri: “Hal yang sedang saya galaukan ini… sebenarnya Untuk Apa?“
Jika jawabannya hanya untuk ego, lepaskanlah. Jika jawabannya untuk kebaikan dan cinta kasih, lanjutkanlah perjuangan itu.
Hiduplah dengan tujuan. Agar kelak kita tidak mati sebagai “mayat yang berlari”, melainkan pulang sebagai jiwa yang telah paripurna menunaikan tugasnya. Yuk mendekati Imlek saatnya kita kita ini butuh refleksi dan retrospeksi.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi…
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
