Tanya Jawab Tao : Bagian 2
January 24, 2016
Tanya Jawab Tao : Bagian 4
January 24, 2016

Tanya Jawab Tao : Bagian 3

Ta Jia Xue Tao Hao,

Berikut Tanya Jawab Tao / Pengenalan Tao bagian 3 :


  1. Tanya: Mengapa banyak hal-hal yang dipandang berarti oleh jaman kuno, pada jaman sekarang sudah tidak cocok lagi dan menjadi satu kelapukan?
    Jawab: Karena jaman kuno memiliki ciri-ciri jaman kuno itu sendiri dan jaman sekarang ada ciri-ciri khas jaman sekarang pula. Maka banyak hal-hal yang mungkin lapuk karena waktu.
    Tetapi Tao (道) adalah gerak, satu kata saja sudah jelas.
    Semua cara-cara sembahyang harus dapat mengikuti jamannya, barulah dapat maju dan berkembang. Kaum Tao kalau tidak menggunakan pikiran adalah “bukan Tao atau tidak Tao”.
  2. Tanya: Apakah yang disebut “Tri Harus” dalam Siu Tao?
    Jawab: Tri Harus adalah:

    1. Pandangan harus luas dan menembus.
    2. Pikiran harus bebas dan terbuka.
    3. Dada harus lapang dan simpatik.
  3. Tanya: Mengapa “Wu” (sadar) dalam Tao (道) menduduki peringkat yang sangat penting?
    Jawab: Kadang-kadang penjabaran Tao (道) memang sangat sukar dengan kata-kata, maka “Wu” lah yang penting, Wu dalam Tao (道) sangat tinggi kedudukannya, banyak teori mendalam yang dapat diresapi tetapi sukar diterangkan dengan kata-kata.
    Hal-hal semacam ini hanya tergantung pada yang bersangkutan untuk meng-Wu (dimengerti) saja.
  4. Tanya: Mengapa Siu Tao perlu menekan nafsu tetapi bukan membelenggunya?
    Jawab: Menekan dan membelenggu itu lain artinya. Disini yang disebut nafsu tidak lain adalah nafsu birahi. Siu Tao terhadap nafsu memang harus menekan tidak diumbar; tetapi juga bukan dibelenggu, karena Tao (道) itu adalah “Normal”.
  5. Tanya: Bagaimana membedakan yang baik (putih) dan yang jahat (hitam)?
    Jawab: Itu memang sukar untuk dibedakan, kita hanya dapat berkata bahwa yang dari golongan putih, kalau hatinya busuk senang berbuat jahat itu adalah orang jahat. Yang tumbuh dalam golongan hitam, kalau hatinya baik dan terus berusaha untuk berbuat kebajikan, itu seorang yang baik.
  6. Tanya: Kalau kita bisa mengkritik orang lain, apa kita sendiri sudah pantas untuk tidak dikritik orang lain?
    Jawab: Semua orang punya kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau kritik. Tetapi kita harus sadar bahwa sebenarnya tidak semua orang suka dikritik orang lain. Oleh karena itu sebagai seorang individu kita harus bisa kritik diri sendiri baru mengkritik orang lain. Dan walaupun untuk tujuan dan hal-hal yang positifpun, menilai seseorang harus diperhatikan hal-hal:

    • Obyektifitas dari penilaian kita.
    • Sopan santun dan etika bahasa yang digunakan.
    • Kalaupun bisa menilai orang maka penilaian itu jangan sampai dijadikan suatu penilaian akhir karena segala sesuatunya masih dapat terus berubah.
    • Diluar hal -hal tersebut adalah lebih baik kita tidak gampang memberikan penilaian terhadap seseorang karena akan sangat sulit dapat memberikan perubahan yang lebih baik, malah lebih sering mengakibatkan timbulnya perselisihan.
  7. Tanya: Patung para Dewa itu buatan manusia, apakah bukan merupakan suatu ketahyulan apabila kita sembah?
    Jawab: Sebelum kita jelaskan soal tersebut, kita ambil suatu contoh misalnya bendera. Bukankah dibuat oleh manusia dengan hanya beberapa meter kain saja? Mengapa waktu dikibarkan, terutama pada detik-detik upacara khusus para pemimpin negarapun hormat kepadanya? Ini karena bendera tersebut mewakili suatu kewibawaan bangsa dan negara. Yang dihormati bukan kainnya, melainkan negara dan bangsanya.
    Patung para Dewa juga demikian halnya. Para Dewa patut disembah dan Beliau itu memang ada. Jadi yang disembah bukan patungnya.
  8. Tanya: Apakah kehidupan manusia hanya satu mimpi belaka?
    Jawab: Kehidupan manusia memang merupakan satu mimpi saja, manusia adalah pelaku-pelaku dalam mimpi tersebut, termasuk kita semua. Maka tidak ada sesuatu apapun yang dapat dibanggakan.
    Tetapi meskipun hanya mimpi, satu impian yang romantis tentu jauh lebih baik dari pada satu impian yang buruk bukan?
    Ini juga harus jadi suatu pengertian atau Wu.
  9. Tanya: Mengapa disebutkan bahwa tenang menciptakan kepandaian?
    Jawab: Yang dimaksud adalah bahwa kita menghadapi sesuatu harus tenang, dalam keadaan tenang barulah kita dapat menghadapi / memecahkan persoalan / hal-hal yang dianggap sulit.
  10. Tanya: Chi Kung / Qi Gong dengan Tahan Napas apa bedanya?
    Jawab: Chi Kung / Qi Gong dengan Tahan Napas itu tidak sama, latihan Chi Kung yang penting ialah mengatur peredaran / perjalanan Ji (Chi) dalam tubuh kita. Tahan Napas hanyalah menahan napas saja, seperti orang menyelam dalam air.
  11. Tanya: Bagaimana untuk mengatur patung-patung Dewa-Dewi yang bentuknya tidak baik?
    Jawab: Banyak rumah tangga mempunyai altar-altar dan patung-patung Dewa untuk dipuja. Kalau dahulu kurang hati-hati membeli patung yang kurang sedap dipandang atau yang rupanya aneh-aneh dan sudah dipuja agak lama, caranya bagaimana? Dibuang tidak berani, dimusnahkan takut-takut, ini adalah soal mengaturnya. Kalau terjadi keadaan demikian maka yang paling benar adalah carilah yang sejenis dan indah untuk pengganti, lalu yang tidak baik dimusnahkan saja, cara ini adalah penghormatan bagi Dewa-Dewi. Selesai sudah masalahnya.
  12. Tanya: Mengapa sembahyang Dewa-Dewi tidak boleh memakai Sam Seng (babi, ikan dan ayam)?
    Jawab: Sembahyang memakai Sam Seng ini sudah lama riwayatnya, disebabkan orang-orang kaya kuno menjadikan permainan yang bodoh dengan mengadu kekayaan dan kemewahan pada saat dilaksanakan upacara sembahyangan. Tahun ke tahun berlalu, sekali salah, berkali-kali salah terus, seakan-akan sudah menjadi sesuatu yang biasa. Kalau kita teliti dan pikirkan sejenak, maka kita akan merasa ngeri! Apakah sebetulnya Sam Seng itu? Omong kasarnya semua itu tidak lain adalah bangkai-bangkai binatang. Mengundang iblis / setan yang makan tidak jadi soal, justru dipajang diatas altar Dewa-Dewi, mengundangnya untuk makan. Dewa akan bagaimana? Anda anggap Dewa-Dewi itu apa / siapa? Apakah Dewa-Dewi masih mau melindungi Anda? Maka harus mengerti. Jangan ceroboh.
  13. Tanya: Mengapa orang yang belajar Tao kewaspadaannya akan lebih tinggi?
    Jawab: Karena belajar Tao selalu menggunakan kecerdasan dan suka berpikir, maka kewaspadaannya tentu lebih tinggi.
  14. Tanya: Mengapa Siu Tao adalah semacam kelakuan yang mulia?
    Jawab: Karena Siu Tao harus mengerti banyak tata-cara / hukum-hukum untuk menjadi manusia yang sempurna, juga menuju ke jalan saling menolong, saling memajukan diri, maka Siu Tao  adalah kelakuan yang mulia, ada baik tidak ada busuknya, semua orang sebaiknya sama-sama Siu Tao.
  15. Tanya: Sumur bolehkah dibuntu / ditutup dengan cara menimbun dengan tanah hingga penuh? Setelah dibuntu bisakah timbul bahaya atau sakit?
    Jawab: Dalam rumah jika terdapat sumur yang tidak dipakai (itu namanya Sui Cing = sumur sial) maka harus cepat-cepat dibuntu dengan tanah, karena jika tidak dibuntu pasti akan menjadi sarang nyamuk dan sebagainya, mungkin juga akan mengeluarkan bau-bau yang tidak sedap, atau gas beracun, serta mengganggu kesehatan.
    Ada yang mengatakan bila membuntu sumur pasti timbul malapetaka, itu tidak berlandasan karena tidak ada sangkut pautnya dengan kedewaan, apalagi yang mengatakan bahwa yang membuntu sumur bisa sakit dan lain-lain, hal itu hanya menjadi bahan tertawaan belaka. Justru tidak dibuntu itulah akan mengganggu kesehatan orang seisi rumah. Anggapan membuntu sumur akan terjadi ini dan itu, hanya karena pengertian mereka kurang tinggi dan malas menggunakan pikirannya.
  16. Tanya: Apakah artinya “Belum mengerti Tao janganlah masuk gunung”?
    Jawab: Artinya ialah sebelum belajar Tao janganlah masuk ke tanah, karena terlalu sayang dan akan kecewa. Jadi bukan berarti belajar Tao harus ke gunung.
Please Share Us :

Comments are closed.