
Last Updated on March 22, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Ketika kita mendengar kata “Budi Pekerti” atau “Bermoral”, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Mungkin terbayang serangkaian aturan kaku tentang cara duduk, cara bicara yang harus diatur sedemikian rupa, atau perasaan bersalah jika kita melanggar norma sosial tertentu.
Di era modern, menjadi “bermoral” sering kali dianggap membosankan, ketinggalan zaman, atau sekadar pencitraan untuk terlihat suci di mata orang lain. Banyak orang memoles penampilan luarnya, namun hatinya penuh dengan kelicikan.
Namun, dalam ajaran Taoisme, khususnya mahakarya Lao Tzu, Daodejing (Kitab Jalan dan Kebajikan), konsep moralitas dipandang dengan cara yang jauh lebih mendalam dan revolusioner.
Lao Tzu adalah pengkritik keras terhadap moralitas buatan manusia yang kaku. Dalam Daodejing, ia menyatakan bahwa ketika Dao (Jalan Agung Alam Semesta) hilang, barulah muncul De (Kebajikan). Ketika De hilang, muncullah “Kemanusiaan” (Ren). Ketika “Kemanusiaan” hilang, muncullah “Keadilan” (Yi). Dan ketika “Keadilan” hilang, muncullah “Sopan Santun” (Li).
Menurut Lao Tzu, sopan santun dan aturan kaku hanyalah kulit luar dari kesetiaan dan kejujuran, dan sering kali menjadi awal dari kekacauan (kemunafikan). Jika seseorang harus diajari cara bersikap sopan, itu berarti ia telah kehilangan kebaikan aslinya. Seseorang yang benar-benar baik tidak perlu berpikir untuk berbuat baik; kebaikan itu mengalir secara alami bagaikan napas.
Jika bukan sekadar sopan santun, lalu apa itu De (德)?
Dalam konteks Daodejing, De tidak diterjemahkan secara sempit sebagai “moral”, melainkan lebih dekat maknanya dengan “Kekuatan Batin” (Inner Power), Kharisma Alami, atau Karakter Sejati.
De adalah manifestasi dari Dao di dalam diri manusia. Jika Dao adalah prinsip universal yang mengatur alam semesta (seperti gravitasi, siklus musim, harmoni Yin dan Yang), maka De adalah bagaimana seseorang menyelaraskan dirinya dengan prinsip tersebut.
Orang yang memiliki De tinggi hidup selaras dengan alam. Ia jujur, rendah hati, tidak memaksakan kehendak (Wu Wei), dan penuh welas asih. Namun, ia melakukan semua itu bukan karena takut dihukum atau ingin dipuji, melainkan karena begitulah natur aslinya, seperti air yang secara alami mengalir ke bawah dan menyegarkan segalanya tanpa pamrih.
Mengapa kita harus mengolah budi pekerti (Xiu De)? Bukan untuk mendapat gelar orang suci, melainkan demi kedamaian hidup kita sendiri.
Dalam filosofi Tiongkok kuno, terdapat pepatah:
厚德载物 (Hòu dé zǎi wù) “Hanya kebajikan/budi pekerti yang tebal (besar) yang mampu menanggung/memikul benda-benda (harta, kedudukan, keberkahan).”
Pepatah ini sangat relevan. Bayangkan De Anda adalah sebuah fondasi bangunan, dan “benda-benda” (uang, kekuasaan, popularitas) adalah lantainya. Jika Anda memiliki banyak harta namun fondasi karakter (De) Anda tipis, bangunan hidup Anda pasti akan runtuh. Inilah mengapa banyak orang yang tiba-tiba kaya atau berkuasa, namun hidupnya berakhir tragis karena terjerat skandal atau keserakahan.
Sebaliknya, orang yang terus mengolah De-nya, menjaga lisannya dari kebohongan dan fitnah, jujur dalam berbisnis, dan welas asih terhadap sesama tentunya akan memancarkan energi atau Qi (气) yang bersih dan terang.
Qi yang bersih ini bekerja seperti magnet raksasa.
Menerapkan ajaran Lao Tzu tentang De di zaman sekarang berarti kita harus mengubah niat kita.
Jangan berbuat baik hanya untuk diposting di media sosial agar mendapat pujian. Kebaikan yang dipamerkan (You Wei – tindakan yang disengaja/punya motif) nilainya sangat rendah dalam pandangan Tao.
Mulailah dari hal-hal yang tidak terlihat:
Ajaran Tao tentang De membebaskan kita dari beban moralitas palsu dan pencitraan. Mengolah budi pekerti bukanlah pengekangan, melainkan pembebasan untuk menjadi versi diri kita yang paling murni dan paling kuat.
Ketika Anda selaras dengan Dao dan De Anda memancar dari dalam, Anda tidak perlu lagi mati-matian mengejar keberuntungan. Keberuntungan, kedamaian, dan penghormatanlah yang akan mengejar Anda.
Seperti air yang menyegarkan, jadilah pribadi yang kehadirannya melegakan dan ketiadaannya dirindukan. Itulah esensi sejati dari De.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi.. Selalu Happy Selalu Sehat ~
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
