
Last Updated on May 27, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Pernahkah Anda duduk diam, menatap kalender, dan tiba-tiba tersadar bahwa kita sudah berada di pertengahan atau penghujung tahun? Anda menoleh ke belakang dan bertanya pada diri sendiri dengan penuh kebingungan: “Ke mana perginya waktu? Perasaan baru kemarin merayakan tahun baru.”
Fenomena psikologis ini dialami oleh hampir semua orang dewasa. Semakin bertambah usia, waktu terasa berlari semakin kencang. Namun, benarkah waktu bergerak lebih cepat? Atau ada yang salah dengan cara kita menjalani hari?
Mari kita bedah misteri “Where did the time go?” ini melalui lensa Tao….
Perasaan bahwa waktu berlalu dalam sekejap mata bukanlah keluhan eksklusif manusia modern. Ribuan tahun lalu, Zhuangzi, salah satu filsuf terbesar Taoisme, menggambarkan kecepatan waktu dengan sebuah kiasan yang sangat puitis dan terkenal hingga kini:
白驹过隙 (Bái jū guò xì) “Waktu berlalu bagaikan sekilas bayangan kuda putih yang berlari melewati celah dinding.”
Zhuangzi menyadari bahwa rentang hidup manusia hanyalah sekejap di mata alam semesta. Namun, mengapa “kuda putih” ini terasa berlari lebih cepat saat kita dewasa dibandingkan saat kita masih anak-anak?
Jawabannya ada pada rutinitas (autopilot). Saat kita anak-anak, segalanya adalah hal baru. Hari pertama masuk sekolah, belajar naik sepeda, mencicipi rasa makanan baru—semua pengalaman baru ini memaksa otak kita untuk bekerja ekstra merekam setiap detail, sehingga memori terasa padat dan waktu terasa berjalan lambat.
Sebaliknya, sebagai orang dewasa, hidup kita sering kali terjebak dalam loop rutinitas: bangun, bekerja, makan, tidur, mengulang. Karena otak tidak menemukan hal baru, ia berhenti merekam detail. Akibatnya, satu bulan penuh bisa terasa seperti satu hari saja karena tidak ada “jangkar memori” yang menancap di ingatan kita. Waktu tidak hilang, pikiran kitalah yang tidak hadir.
Bagaimana cara “memperlambat” waktu yang terasa terbang? Sains dan Taoisme sepakat pada satu solusi: Jadilah pemula kembali dan eksplorasilah hal-hal baru.
Dalam ajaran Tao (khususnya Daodejing), ada sebuah konsep yang disebut Pu (朴), yang diterjemahkan sebagai “Kayu yang Belum Dipahat” atau “Pikiran Pemula”.
Ketika Anda mencoba hal baru—entah itu belajar melukis, mengambil rute jalan yang berbeda saat pulang kerja, mempelajari bahasa baru, atau mencoba resep masakan yang belum pernah Anda buat, Anda memaksa diri Anda kembali menjadi Pu. Anda melepaskan keangkuhan sebagai orang dewasa yang “sudah tahu segalanya”, dan kembali menjadi anak kecil yang penuh rasa ingin tahu.
Di momen Anda mencoba hal baru itulah, pikiran Anda ditarik paksa untuk hadir di Masa Kini (The Present Moment). Otak Anda kembali merekam. Waktu pun kembali melambat dan terasa penuh warna.
Sering kali, “Where did the time go?” bukan hanya soal kebosanan, melainkan penyesalan. Penyesalan karena kita menghabiskan usia untuk mencemaskan masa depan atau meratapi masa lalu, sementara hari ini terlewat begitu saja tanpa dinikmati.
Ada sebuah peribahasa Tiongkok klasik yang mengingatkan kita tentang nilai setiap detik:
一寸光阴一寸金,寸金难买寸光阴 (Yī cùn guāng yīn yī cùn jīn, cùn jīn nán mǎi cùn guāng yīn) “Satu inci waktu bernilai satu inci emas, namun satu inci emas tidak akan bisa membeli kembali satu inci waktu.”
Orang yang hidup dalam kerangka Tao memahami peribahasa ini bukan sebagai dorongan untuk hustle culture (bekerja gila-gilaan setiap detik), melainkan dorongan untuk Sadar Penuh (Mindfulness).
Mengeksplorasi hal baru tidak selalu berarti harus bepergian ke luar negeri atau melakukan olahraga ekstrem. Eksplorasi bisa dilakukan dalam keseharian dengan cara mengubah persepsi:
Waktu akan terus berjalan, dan kita tidak bisa menghentikannya. Dao (Hukum Alam Semesta) terus mengalir seperti sungai yang tidak pernah berbalik arah.
Namun, kita tidak perlu membiarkan waktu sekadar menjadi bayangan “kuda putih” yang lewat tanpa makna. Dengan keberanian untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru, melepaskan kebiasaan otomatis kita, dan berlatih hadir sepenuhnya di saat ini, kita bisa memperlambat persepsi waktu. Kita mengisi “cangkir” kehidupan kita dengan ingatan-ingatan yang kaya.
Jangan biarkan hidup Anda berjalan secara autopilot. Lakukan satu hal baru minggu ini, dan lihatlah bagaimana waktu Anda perlahan kembali menjadi milik Anda seutuhnya.
Jika Anda harus memilih satu hal baru yang ingin Anda pelajari atau eksplorasi bulan ini untuk “memperlambat” waktu Anda, hal apakah itu?
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi.. Selalu Happy Selalu Sehat ~
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
