
Last Updated on June 1, 2026 by STC-XZW
Da Jia Xue Dao Hao,
Salam Tao…
Pernahkah Anda merasa serba salah saat berada di tengah tongkrongan atau di media sosial? Jika Anda banyak bicara dan mengutarakan opini, orang-orang mulai mencap Anda “sombong”, “sok tahu”, atau “ingin menang sendiri”. Namun, jika Anda memilih diam untuk mencari aman, Anda perlahan ditinggalkan karena dianggap “tidak asik”, “pasif”, atau “menarik diri dari pergaulan”.
Akibatnya, banyak dari kita hidup dalam ketakutan. Kita menelan kembali kata-kata kita, menyensor opini kita sendiri, dan akhirnya kehilangan jati diri hanya agar bisa diterima.
Bagaimana kita menavigasi dilema yang melelahkan ini? Filsafat Taoisme memiliki pandangan yang sangat elegan tentang seni berbicara dan membaur tanpa harus kehilangan diri sendiri.
Ada alasan mengapa orang yang banyak bicara sering kali pada akhirnya dipandang negatif oleh sekitarnya. Tiongkok kuno memiliki satu peribahasa yang sangat terkenal terkait hal ini:
言多必失 (Yán duō bì shī) “Orang yang banyak bicara, pasti akan melakukan kesalahan.”
Di era modern, ego manusia sering kali membonceng di balik kata “berpendapat”. Saat kita terlalu banyak bicara, tanpa sadar kita sedang mendominasi ruang, mencoba membuktikan bahwa kita lebih pintar dari orang lain. Energi (Yang) yang terlalu berlebihan ini memicu rasa tidak nyaman pada lawan bicara. Inilah mengapa mereka akhirnya mencap kita “sombong”.
Laozi dalam Daodejing (Bab 56) dengan tegas menyatakan:
知者不言,言者不知 (Zhī zhě bù yán, yán zhě bù zhī) “Ia yang mengetahui (kebenaran) tidak banyak bicara; ia yang banyak bicara tidak benar-benar mengetahui.”
Lalu, apakah Tao mengajarkan kita untuk diam seribu bahasa dan menarik diri dari pergaulan (seperti orang yang apatis)? Tidak.
Jika Anda diam karena takut dihakimi, Anda sebenarnya sedang dikendalikan oleh ego Anda sendiri (takut citra diri Anda rusak). Menarik diri dari pergaulan karena takut salah bicara berarti Anda memutus aliran Qi (energi kehidupan sosial) yang menyeimbangkan manusia. Air yang berhenti mengalir akan menjadi sarang penyakit; manusia yang mengisolasi diri karena takut terluka akan menjadi depresi dan kesepian.
Di sinilah letak kebijaksanaan tingkat tinggi dari ajaran Tao untuk mengatasi “serba salah” tersebut. Masih dalam bab yang sama di Daodejing, Laozi memberikan jalan keluarnya yang disebut:
和光同尘 (Hé guāng tóng chén) “Redupkan cahayamu, dan berbaurlah bersama debu.”
Apa arti perumpamaan puitis ini? “Cahaya” melambangkan kecerdasan, opini, dan kehebatan Anda. “Debu” melambangkan masyarakat, pergaulan, dan dunia yang tidak sempurna.
Laozi mengajarkan bahwa Anda boleh memiliki opini yang brilian, namun saat Anda menyampaikannya, jangan menyilaukan mata orang lain. Redupkan sedikit cahaya Anda. Sampaikan opini Anda dengan kerendahan hati, bukan untuk menceramahi, melainkan untuk berbagi. Anda bisa berbaur dengan “debu” (masyarakat umum) tanpa harus menjadi kotor.
Bagaimana mempraktikkan He Guang Tong Chen dalam keseharian agar kita tidak dianggap sombong namun tetap punya teman? Terapkan sifat Air:
Kita tidak bisa mengontrol pikiran orang lain yang ingin mencap kita sombong atau apatis. Namun, kita bisa mengatur niat di balik kata-kata kita.
Berhentilah berbicara untuk membuktikan kehebatan Anda, dan berhentilah diam karena ketakutan. Bicaralah karena Anda peduli, dan diamlah karena Anda ingin mendengarkan. Dengan meredupkan sedikit cahaya arogan di dalam diri dan menyatu dengan harmoni sekitar, Anda akan menemukan bahwa berbicara tak lagi menjadi sebuah ketakutan, melainkan sebuah jembatan untuk memahami sesama manusia.
Semangat kawan, rajin liankung karena semua ini hanyalah Sekejab Abadi.. Selalu Happy Selalu Sehat ~
Xie Shen En
Kesehatan adalah hak milik yang paling berharga. Kepuasan adalah harta benda paling bernilai. Kepercayaan adalah kawan paling baik. Tak menjadi apa-apa adalah kegembiraan paling besar.
