Mengembangkan Pikiran
January 25, 2016
Nasehat Untuk Perokok
January 25, 2016

Menyayangi Diri dan Siu Tao

Menyayangi Diri dan Siu Tao

Oleh: Wu Sin

Dalam rangka Siu Tao (belajar dan memahami Tao) kiranya sifat menyayangi diri (Ce Ai) sangat perlu kita miliki karena sifat ini sangat sesuai dengan Tao () itu sendiri.

Apakah menyayangi diri itu?

Dapat dijelaskan bahwa menyayangi diri adalah suatu perbuatan / tingkah laku yang bertujuan akhir untuk menyayangi dan melindungi diri kita sendiri dalam konotasi yang positif.

Tentunya untuk memiliki sifat seperti ini tentu tidak mudah, sebab kita harus selalu waspada dan memperhatikan hal-hal yang terjadi disekeliling kita, selalu belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain maupun diri sendiri, serta selalu membaca buku untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru dan berguna.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar seorang ibu memuji salah satu anaknya sangat menyayangi diri, karena setiap pulang sekolah pasti langsung belajar sendiri membuat PR (pekerjaan rumah), semua dilakukan tanpa disuruh atau diperintah.

Sayangnya ketika anak ini ditanya mengapa dia rajin, jawabannya adalah supaya bisa menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Ketika akhirnya tidak berhasil menjadi juara kelas, maka anak tersebut menjadi pemurung dan menjelek-jelekkan temannya yang menjadi juara kelas (sifat sirik dan dengki).

Apakah anak ini mempunyai sifat menyayangi diri?

Menurut saya dalam hal belajar anak tersebut sudah mempunyai sifat menyayangi diri, akan tetapi masih dalam taraf yang sangat dini.

Sehingga dalam hal ini adalah tugas orang tua untuk selalu membimbingnya supaya bisa memahami hakekat yang sebenarnya dari proses belajar, yaitu: untuk memperoleh ilmu pengetahuan (supaya pandai), melatih pola berpikir yang sistematis agar dapat bekerja secara efektif dan efisien, dan juga melatih kesabaran dan keuletan.

Jadi predikat juara kelas dan hadiah itu hanyalah sebagai hasil sampingan saja sehingga jika tidak dapatpun tidak apa-apa.

Kalau anak tersebut sudah mengerti inti tujuan belajar, maka dia tidak akan murung dan putus asa jika tidak menjadi juara kelas sehingga otomatis tidak akan timbul rasa iri dan sirik, akan tetapi justru tetap tegar dan percaya diri terus rajin belajar menimba ilmu dengan tujuan akhir untuk menyayangi diri sendiri.

Jadi sifat menyayangi diri merupakan suatu proses yang berkelanjutan, yang perlu selalu dipupuk, dibina, dan diperbaiki supaya lebih sempurna.

Contoh lainnya adalah dalam masalah sopan-santun berlalu-lintas. Sering kita melihat ada sebagian orang yang mengendarai kendaraan dengan cara tidak menyayangi diri.

Dengan santai dan cuek mereka mengendarai motor ditengah jalan tanpa menghiraukan pengguna jalan lainnya. Orang seperti ini seakan bersikap tidak peduli terhadap tingkah lakunya yang memiliki resiko membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, mungkin ini karena anggapan bahwa jika terjadi kecelakaan antara motor dan mobil, maka mobil yang salah. Tetapi apakah tidak pernah terpikirkan bahwa jika sampai tertabrak oleh mobil akan beresiko menjadi cacat tubuh bahkan bisa meninggal, sehingga yang rugi adalah diri sendiri juga.

Berbeda dengan orang bersifat menyayangi diri yang akan berkendaraan dengan selalu mentaati peraturan lalu-lintas, menjaga dan memperhatikan keselamatan serta kepentingan diri sendiri maupun orang lain, sehingga mereka tidak akan bersikap membahayakan maupun merugikan orang lain dalam berkendaraan seperti berhenti dan parkir ditikungan jalan, parkir didepan pintu rumah orang dan lainnya.

Bagaimana dengan dunia usaha / dagang?

Sudah pasti seorang pengusaha yang bersifat menyayangi diri akan mati-matian memupuk serta menjaga kepercayaan (Sin Yung) dan nama baiknya. Sehingga tidak jarang yang merasa lebih baik merugi daripada harus kehilangan kepercayaan dan nama baiknya.

Saya kira Taoyu-Taoyu budiman dapat menggunakan Wu-nya untuk kasus dan contoh dibidang lainnya.

Yang jelas untuk memiliki sifat menyayangi diri yang memadai, seseorang harus selalu waspada dan memperhatikan lingkungan disekitarnya, belajar dan kadang-kadang perlu berkorban untuk mencapai tujuan akhir yang bersifat menyayangi diri sendiri.

Jangan lupa bahwa hanya orang yang bisa menyayangi diri sendiri secara positif yang baru bisa menyayangi orang lain.

Bagi Taoyu ( ) yang kritis, cobalah dipikirkan bagaimana sifat menyayangi diri yang negatif itu! Apakah ada?

Mari kita gunakan Wu!

Please Share Us :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − two =